Terima kasih yang ketiga

Untukmu si adik kecil yang telah memberikan kesempatan untuk menjadi seorang kakak. Menjadi seorang panutan dan pedoman dalam setiap tindakan. Menjadi seorang yang bertanggung jawab penuh pada dirinya dan orang lain.

Mungkin dulu sewaktu kecil, kakak sering merebut kempongmu, meminjam sepedamu tanpa izin, merusak mainanmu, menoyor kepalamu, bermain dengan daun telingamu, dan kejahilan-kejahilan lainnya. Tapi ingatkah, kamu juga melakukan hal yang sama? Kamu sering mengambil makanan tanpa izin dari kakak. Kamu juga sering mengadu pada ibu ketika kakak tak sengaja melakukan kesalahan. Ibu kemudian marah dan menjewer telinga kakak. Itu sangat menyebalkan.

Tapi itu dulu. Saat kita belum tahu apa arti saudara. Perlahan ibu dan bapak mengajarkan kita untuk saling sayang, saling mendukung, saling menjaga. Hingga kakak tahu kamu sekarang sudah beranjak dewasa.

Dulu, tinggimu hanya setelinga kakak. Namun sekarang kamu sudah menyalip dengan mudahnya. Sekarang kakak hanya setinggi pundakmu.

Tumbuhlah dewasa, dik. Nikmatilah masa mudamu yang tak akan pernah terulang untuk kedua kalinya. Pergilah mencari ilmu dan mencinta sebanyak-banyaknya, tapi tetaplah mengingat Tuhan. Sebab Ia lah yang memberimu kesempatan untuk mencicipi udara dunia. Bapak dan ibu hanyalah perantara, dan kakakmu ini hanya bisa berbicara.

Bercita-citalah setinggi mungkin. Berusahalah untuk menggapainya. Kakak di sini mendukungmu.

Temuilah gadis impianmu. Dekati dengan cara yang sopan dan tak terburu-buru. Tak apa jika ia menolakmu. Masih banyak gadis lain yang akan menerimamu. Sekalinya nanti ada yang menyakitimu, maka kakak akan jadi orang pertama yang membelamu. Beraninya ia menyakiti adik lelakiku yang luar biasa baiknya.

Jangan lupa untuk terus berbakti pada orang tua, pada bapak dan ibu. Sebab berkat merekalah kita bisa bertemu dan menjadi keluarga yang padu.

Sekali lagi, terima kasih, dik. Kakak teramat sangat menyayangimu.

Jogja, 21/10/2017

Advertisements

Karena Love Sedetik, Bapernya Seharian

Semalam adalah malam Minggu dan saya menikmatinya bersama teman-teman masa SMA di sebuah restoran cepat saji. Kami sibuk dengan gawai masing-masing karena kejaran tugas yang belum selesai.

Saya melihat layar ponsel, ada notifikasi. Beberapa chat dari teman, operator, perintah pembaharuan aplikasi, dan… kamu.

Jantung saya terpacu, berdebar kencang sekali, hingga saya khawatir jika teman-teman saya bisa mendengarnya. Sebab mereka tak mengetahui tentang kamu. Saya takut mereka bertanya lebih jauh. Tentang kamu. Tentang rasaku.

Notifikasinya sederhana. Kamu hanya me-like komentar yang saya berikan di unggahanmu. Komentar yang pertama kali saya berikan untukmu. Tapi saya bahagianya setengah mati. Teman-teman saya sampai heran melihat saya yang begitu antusias.

Tahukah kamu, euforia itu bertahan hingga hari ini? Bahkan saat menulis ini, saya masih senyum-senyum sendiri. Sebegitunya pengaruh kamu buat saya.

Jogja, 09/04/2017

Catatan Hari Ini

Dalam senyap saya berharap kamu senantiasa sehat dan mendapat sesuatu yang baik serta jauh dari terik.

Maaf, saya merindukanmu lagi malam ini. Ingin menyapamu tapi tak mampu. Jarak ribuan kilometer lagi-lagi menjadi kambing hitamnya, juga koneksi dari provider ternama yang ngadat, menghalangi niat hati untuk mencari tahu tentang kabarmu. Sungguh, saya rindu.

Sedang apa kamu di sana? Sudah tersenyumkah di hari ini? Sudah berdoakah hari ini? Banyak pertanyaan dalam kepala yang ingin terucapkan, tapi sia-sia. Semoga kamu selalu bahagia dan semoga kamu selalu dalam keadaan dicinta.

Terakhir saya lihat, kamu sudah mengenakan seragam profesimu dan sedang menjalani kewajiban yang sama seperti saya, mengabdi pada masyarakat di suatu tempat yang jauh dari peradaban. Mengorbankan waktu dan tenaga yang mungkin tidak seberapa.

Purworejo, 13/07/2017