OSPEK! Day 1

Malam ini aku ingin bercerita. Sebuah cerita yang tidak pendek, yang tidak semua orang aku yakin pernah merasakannya. Cerita ini dari sudut pandangku. Dari sisi dimana aku yang menjadi pemeran utamanya. Maka aku akan menceritakannya. Sekarang…

Senin, 25 Agustus 2014

Aku terbangun setelah mendengar alarm hpku berbunyi. Tepat pukul 03.00. Aku mengerjapkan mataku. Mengumpulkan nyawa dan segenap tenagaku untuk beranjak dari tempat tidur. Aku keluar kamar dan menuju meja belajarku. Bercermin seraya menyisir rambut kusutku. Aku melangkahkan kaki menuju lemari pakaian, mengambil beberapa helai pakaianku dan melangkah menuju kamar mandi.

Ah, masih terlalu dingin, ucapku. Tentu saja, ini masih jam tiga pagi. Jam-jam di mana orang-orang masih menikmati menjelajah dunia mimpi. Aku putuskan untuk mandi menggunakan air hangat saja. Aku isi penuh teko yang biasa aku gunakan untuk merebus air. Segera aku tumpangkan di atas kompor gas hadiah dari pembelian motor tiga tahun yang lalu. Aku menunggu air itu mendidih sembari mencuri tidur di kursi yang ada di dapur. Tidak bisa nyenyak memang tapi setidaknya aku bisa memejamkan mataku sejenak. 30 menit berlalu, tutup teko sudah bergerak-gerak dan air mulai mengucur dari bibir teko. Air sudah matang. Aku mengambil kain lap untuk mengangkat gagang teko dan membawanya ke dalam kamar mandi. Aku mengucurkan air keran di bak besar yang aku punya sembari mengalirkan air panas dari teko. Bak sudah penuh, air panas dalam teko juga sudah habis. Aku mengembalikan teko pada tempatnya dan aku segera mandi sebelum air menjadi dingin lagi. Sebenarnya aku tahu, mandi menggunakan air hangat tidak baik untuk kesehatan, tapi sungguh aku tidak akan sanggup jika harus mandi dengan air dingin di jam tiga pagi. Mandi menggunakan air hangat saja membuatku menggigil apalagi menggunakan air dingin? begitu pikirku.

Seusai mandi aku bersiap-siap, memakai kemeja putih, rok hitam, kerudung putih non-transparan dan pin biru berkelip yang dipasang di bagian dada kanan. Itu ketentuan yang harus aku patuhi mulai hari ini. Aku menghela nafas. Hari ini adalah OSPEK hari pertamaku, kawan. Aku gugup, aku bingung harus bagaimana. Jujur saja, aku masih trauma dengan MOS sewaktu SMA dulu. Aku sudah pernah menceritakannya di postingan sebelum ini, jauh di bawah mungkin. Bapak, ibu, dan kakak-kakak kelas sudah berkata padaku, “Ospek itu jangan kamu samakan dengan MOS SMA. Itu jelas berbeda. Ospek bukan ajang untuk bentak-bentakan, plonco-ploncoan, balas dendam senior ke junior, BUKAN. Ospek itu ya pengenalan lingkungan kampus pada mahasiswa baru. Ospek hanya mendengarkan motivasi-motivasi yang akan membuatmu berpikir lebih dewasa, berpikir sesuai statusmu sebagai mahasiswa.” Aku percaya, tapi aku tetap gugup.

Pukul 04.30, adzan subuh berkumandang, aku mengambil air wudhu. Aku ingin menenangkan diriku melalui Tuhanku. Aku ingin mendapatkan ridho dari Tuhanku sebelum aku memulai aktivitasku hari ini. Dua rakaat kewajibanku, bukan, bukan kewajiban, tapi bukti cintaku untuk Tuhanku. Usai aku menjalankan ibadahku, aku kembali mengecek penugasan yang telah diberikan. Aku ingin memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal. Aku tidak mau dihukum di hari pertamaku memasuki kampus biru. Usai mengecek dan memastikan bahawa tidak ada barang yang tertinggal , aku memakai kaos kaki putih panjangku dan sepatu fantofel hitam yang sudah aku siapkan, lalu aku menunggu Gandes. Teman masa SMP yang sekarang menjadi teman kampusku walaupun berbeda jurusan. Dia memutuskan untuk “nebeng” aku karena dia belum memiliki SIM. Aku menunggu, menunggu, dan menunggu. Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih tapi Gandes belum menampakkan dirinya, padahal kami sudah harus sampai di kampus pukul 05.30 untuk registrasi. Perjalanan dari rumah ke kampus kurang lebih 20 menit. Aku mulai harap-harap cemas. Gandes tak kunjung datang, aku benar-benar cemas.

Hampir setengah enam, Gandes baru menampakkan dirinya, tanpa basa-basi aku langsung menyuruhnya untuk memasukkan motornya ke garasi dan kami segera berangkat. Untung saja jalanan masih sepi sehingga aku bisa memacu motorku dengan kecepatan penuh. Dinginnya pagi tak mampu menggoyahkan tekadku untuk sampai di kampus tepat waktu. Di benakku tidak ada pikiran lain selain jangan sampai aku telat di hari pertamaku memasuki kampus. Akhirnya kami sampai kampus dengan selamat.

Di parkiran, aku begitu tergesa-gesa, pikiranku kacau, aku takut terlambat dan dihukum. Setelah melepas masker dan helmku, aku dan Gandes bergegas menuju dekanat utama. Kami diseberangkan oleh kakak-kakak panitia ospek yang ber-handbadge merah (read : keamanan) di lengannya. Ternyata banyak yang bersama kami, di trotoar kami diberi tahu bahwa atribut ospek (read : topi toga, co card, tas punggung biru, pin berkelip) harus dipakai saat melewati gerbang utama karena akan diperiksa oleh kakak-kakak ber-handbadge hitam (read : SPK -sie penegak kedisiplinan-). Aku segera membuka ransel coklatku, mengeluarkan segala atribut tersebut. Barang bawaanku banyak sekali, aku harus membawa helm, ransel, topi toga, dan aku harus berlari-lari kecil unuk segera sampai ke gerbang dekanat utama. Memasuki gerbang aku dihadang oleh mbak-mbak SPK, aku dicek mulai dari kerudung hingga sepatu. Syukur, aku lulus sensor. Usai diperiksa aku diperbolehkan masuk dan segera registrasi. Setelah itu aku bergegas mencari kelompok ospekku. Ternyata mereka di pojok kanan, maklum saja kelompokku hampir terakhir jadi tempatnya di ujung.

Sesampainya aku di tempat kelompokku berada, aku langsung dimintai tanda tangan oleh mbak pemandu yang super kece 🙂 dan aku segera meminta dua buah roti yang menjadi penugasan pagi hari ini. Ternyata roti itu satu untuk sarapan dan satunya untuk cemilan. Aku segera melahap sebuah roti dengan cepat ketika dikomandoi bahwa waktu sarapan tinggal beberapa menit lagi. Usai sarapan sie acara membariskan dan menyiapkan kami menuju GOR.

Ya, hari senin yang cerah ini aku memulai ospek universitas yang berlangsung di GOR bersama fakultas-fakultas yang tidak kalah keren dengan fakultasku. Kata mbak pemandu, “di GOR itu kalian seakan-akan cuma adu yel-yel dengan fakultas lain.” Kami diberangkatkan ke GOR dengan berbaris dua-dua melewati trotoar di kiri fakultas. Di pinggir trotoar itu sudah berdiri kakak-kakak panitia yang mengawasi kami agar kami selalu berada di pinggir jalan agar tidak celaka. Hari pertama ini kami melewati jalan yang menuju ke fakultas bahasa dan seni kemudian berbelok ke kiri melewati lapangan basket. Kami diteriaki olek kakak-kakak SPK agar cepat dan jangan sampai ada celah di antara barisan. Alhasil aku harus berlari-lari kecil untuk menyamakan barisan, maklumi saja, langkahku terlalu kecil, sesuai tubuhku. Setelah berlari-lari kecil akhirnya aku sampai di GOR. Entah kenapa aku merasakan atmosfer suporteran di sini. Mungkin aku belum bisa move on dari kegiatan SMA yang bernama suporteran. Di mana aku dan teman-teman harus berteriak-teriak mendukung sekolahku agar menjadi juara dalam ajang DBL. Sekarang akupun harus berteriak-teriak lagi tapi bukan untuk suporteran melainkan untuk ospek universitas, membela kampus biruku. Memberitahukan eksistensi FMIPA pada seluruh penghuni kampus.

Pada ospek universitas hari pertama ini fakultasku mendapatkan tempat istimewa. Kami duduk di tengah GOR, bukan di tribun seperti fakultas yang lain sehingga kami seolah-olah menjadi center dan pusat perhatian pada ospek kali ini. Aku merasa bangga. Di depan kami ada panggung pagelaran untuk ospek, di tribun pojok kiri ada FIP, disusul tribun sebelah kiri kami ada FIK, kemudian ada FE, di tribun belakang kami ada FIS, di tribun sebelah kanan ada FBS, dan di pojok kanan ada FT. Lengkaplah ketujuh fakultas yang ada di universitas tercinta kami ini.

Aku memperhatikan masing-masing fakultas melalui co card dan atribut yang mereka kenakan. Sungguh menakjubkan, begitu kreatifnya panitia-panitia ospek UNY ini. FIP dengan warna kebanggaan mereka hijau ditambah dengan lightstick warna-warni, FIK dengan topi dan co card warna emas melambangkan kampus kuning mereka, FBS dengan co card dan topeng kombinasi ungu dan kuning mencerminkan kampus ungu mereka yang berbudaya, FIS dengan co card dan atribut mereka yang berwarna merah sesuai dengan warna kebanggaaan kampus, FT dengan co card dengan lampu ajaib yang dapat menyala serta co card yang berwarna orange melambangkan kampus mereka, FE si merah muda yang membara, serta FMIPA si biru yang kalem serta penuh kesederhanaan. Kami bergabung menjadi satu dalam datu universitas yang bernama UNY. Hidup Mahasiswa!

Sejak awal acara, masing-masing fakultas menyanyikan yel-yelnya tapa henti. Aku yakin mereka ingin menunjukkan eksistensi mereka. Namun fakultasku tidak banyak mendapatkan kesempatan untuk menyanyikan yel-yel karena selalu diserobot oleh fakultas lain. Akhirnya korlap (read : koordinator lapangan) hanya bisa menyilangkan kedua tangan yang berarti diam kepada kami. Mengharuskan kami untuk mengalah. Aku menggerutu. Di tempat dudukku ini aku sudah geregetan ingin menunjukkan eksistensi fakultasku. Aku ingin berteriak-teriak seperti saat suporteran dahulu. Saat kami mendapatkan giliran untuk menyanyikan yel-yel kami, para korlap memberikan aba-aba sekuat tenaga kepada kami. Ada saat di mana kami membuka kertas asturo biru yang kami bawa dari fakultas pagi tadi. Ada yang menunjukkan sisi biru dan ada yang menunjukkan sisi putih. Aku tahu, ini pasti formasi sebuah tulisan tapi aku tak tahu tulisan apa. Kami hanya mengikuti komando dari para korlap yang ada di depan.

Acara intinya adalah mendengarkan sambutan-sambutan dari Pak Rektor dan para Wakil Rektor dan materi dari Bapak Brigjen Polisi serta Guru Besar UNY. Selama itu aku berusaha mencatat poin-poin yang dapat aku tangkap dari materi karena sempat ada penugasan dari materi yang diberikan. Untuk mengisi buku ospek jugalah daripada kosong, pikirku.

Aku duduk bersebelahan dengan teman sekelompokku. Di sebelah kiriku ada Lisna dan di sebelah kananku ada Agnes. Di kala kami suntuk, kami sering bercanda, ngobrol tentang hal-hal kecil, menjauhkan diri dari ngantuk. Namun ketika ada panitia di samping barisan kami, kami terdiam membisu, takut ditegur karena kebanyakan omong di tengah materi yang diberikan oleh bapak brigjen polisi.

Tibalah waktu dhuhur, mahasiswa putra dipersilahkan untuk keluar terlebih dahulu. Kemudian baru yang putri, akhirnya aku tahu fungsi air mentah yang ada dalam botol air mineral 1500 ml dengan satu tutup bolong dan yang satu tidak bolong yang menjadi penugasan hari pertama ini. Air itu digunakan untuk kami berwudhu. Kami harus menjalankan ibadah, bukti cinta kami pada Tuhan dengan cara yang sederhana dan ala kadarnya. Aku hanya berdoa semoga apa yang aku lakukan ini mendapatkan berkah dari Tuhanku. Kami harus mengantri untuk mendapatkan tempat solat, berdesak-desakan. Siang itu sungguh terik, saat aku membuka kaos kaki dan menapakkan kakiku di tanah… aku tidak kuat menahan panasnya. Namun aku harus kuat, anggap saja latihan untuk di Padang Mahsyar nanti. Saat aku mau berwudhu, aku melepas co cardku tapi tiba-tiba ada suara “co cardnya jangan dilepas, co card itu dipakai terus” dari kakak SPK, sesegera mungkin aku memakainya lagi dan wudhu.

Aku menggelar sajadahku di atas konblok yang aku tidak tahu itu bersih atau tidak, sah untuk solat atau tidak. Yang aku pikirkan hanya aku harus solat, aku harus berdoa pada Tuhanku, aku harus mendapatkan berkah dari-Nya. Ketika aku solat, ada angin berhembus, sepoi-sepoi, menyejukkan hatiku. Ah nikmat Tuhan memang nyata tapi aku masih jarang bersyukur, astaghfirullahal adzim… Seusai aku menyelesaikan solatku aku segera memakai kaos kaki dan sepatuku, melipat mukena dan sajadah, memasukkannya ke dalam tas kecil yang aku bawa. Aku dan temanku segera memasuki GOR lagi, melanjutkan acara yang tersisa.

Acara setelah ishoma adalaaahh.. MAKAN! YES! Kami mendapatkan nasi kotak beserta air mineral gelas + sedotan. Tak lupa berdoa sebelum makan, aku segera melahap jatah makan siangku. Mungkin karena aku lapar sehingga makanan ini terasa begitu nikmat. Usai makan acaranya adalah materi lagi dari Guru Besar UNY.

Belum ada setengah dari materi tapi rasa kantuk sudah menyerangku. Mataku serasa ingin menutup ketika materi diberikan, hal itu seperti dibacakan dongeng sebelum tidur. Ditambah lagi keadaan sehabis makan yang sudah pasti kenyang dan sudah lelah. Aahhh perasaan butuh kasur, bantal, guling, selimut, pindipi dan pipo menyeraangg…
Aku berusaha menghilangkan rasa kantuk ini dengan mengajak ngobrol teman di sebelah kananku, Agnes karena teman sebelah kiriku memutuskan untuk mencuri waktu tidur. Agnes semangat sekali ketika kami membahas tentang mas-mas korlap. Dalam pikiranku, ah pasti ada salah satu dari mas-mas korlap itu yang berhasil mencuri perhatiannya.

Hari ini juga ada pengenalan organisasi-organisasi yang ada di universitas maupun di setiap fakultas. Satu per satu maskot dari masing-masing fakultas hadir di tengah GOR, sepijakan kaki dengan fakultas MIPA. Aku merasa senang sekali melihat maskot-maskot yang dengan lincahnya bergerak ke sana- kemari. Begitu lucunya. Tiba saatnya masing-masing ormawa (Organisasi Mahasiswa) tiap fakultas menunjukkan diri, melewati red carpet yang digelar di tengah-tengah fakultasku. Dan segera mereka menuju ke fakultas masing-masing, bergabung dengan adik tingkatnya dan menyanyikan yel-yel bersama. Tiap-tiap ormawa fakultas membawa bendera dan atributnya masing-masing. Ada juga UKM-UKM universitas, panitia ospek universitas, BEM universitas, dan lain-lain. Seketika GOR menjadi sangat penuh. Masing-masing fakultas ingin menunjukkan eksistensinya. Tapi kami tetaplah satu, kami berjiwa UNY yang bertakwa, mandiri, dan cendekia. Ketua BEM dan ketua Ospek universitas memberikan sambutannya tapi aku lupa mereka mengatakan apa saja. Setelah sambutan, ormawa-ormawa fakultas beserta maskot-maskotnya dipersilahkan untuk keluar.

Memasuki waktu ashar, acara sudah hampir selesai. Waktu tersisa itu digunakan untuk menyanyikan yel-yel masing-masing fakultas. Namun fakultasku jarng sekali mendapatkan kesempatan. Ketika fakultas bahasa dan seni (FBS) selesai beryel-yel disusul oleh fakultas ilmu keolahragaan (FIK). Setelah itu disusul oleh fakultas teknik (FT). Kemudian fakultas ilmu sosial (FIS). Kemudian fakultas ilmu pendidikan (FIP).  Kemudian fakultas ekonomi (FE), dan kemudian fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA). Fakultasku, yang selalu mengalah. Namun kami selalu bersikap kalem karena karakteristik anak FMIPA terkenal kalem. (Aku, kalem? OMG) Ketika kami berkesempatan beryel-yel, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku bersikap totalitas, aku mengeluarkan suara sekuat tenagaku untuk meneriakkan FMIPA. Bukan bersikap sombong atau apapun tapi aku hanya ingin fakultas lain tidak meremehkan fakultasku karena fakultasku terkenal dengan mahasiswa-mahasiswa alimnya. Walaupun alim, kami tetap oke dan kece. Dan mereka harus tahu itu.

Setelah itu berakhirlah acara ospek universitas hari pertama di GOR. Kami pulang paling awal, menuju ke fakultas melewati jalan awal yang kami tempuh untuk menuju ke GOR tadi. Di lapangan basket terlihat beberapa mahasiswa sedang bermain basket dan di sebelah lapangan basket ada marching band yang sedang latihan. Satu kata untuk mereka semua, KEREN! Kakak-kakak SPK segera berteriak untuk meluruskan pandangan ke depan, ya tentu saja kakak SPK tahu kalau pandangan kami akan tertuju pada kakak-kakak tingkat yang sedang latihan di sebelah kanan barisan kami. Kami berbariss dua-dua, berjalan melewati banyak panitia ospek. Sampailah kami di halaman dekanat utama FMIPA.

Sesegera mungkin bagi mahasiswa yang solat segera melakukan ibadah solat ashar di masjid di depan fakultas. Akupun bergegas menuju masjid. Berdesak-desakan, mengantri untuk wudhu, ya mungkin ini salah satu gregetnya masa ospek. Usai menunjukkan bukti cinta pada Tuhan, aku bergegas menuju fakultas untuk mencatat penugasan untuk hari esok.

Beberapa saat setelah aku sampai di halaman dekanat utama fakultas baru dibacakan ketentuan penugasan untuk hari esok. Tugasnya tidak terlalu berat, hanya membutuhkan pikiran dan kesabaran yang penuh untuk mengerjakannya. Tugasnya hampir sama dengan penugasan hari pertama tadi. Hari ini aku mulai yakin ospek di fakultas ini tidak akan sekejam masa SMA dahulu. Ospek di sini akan lebih kemahasiswaan, akan membuatku menjadi mahasiswa sebenarnya.

Setelah acara selesai aku dan Gandes pulang. Lelah sekali, tapi aku juga senang. Sesampainya di rumah aku mandi, menyegarkan diri, melaksanakan bukti cintaku pada Tuhanku di waktu maghrib dan isya. Kemudian mengerjakan tugas untuk besok. Setelah itu barulah aku bisa menjelajah alam mimpiku.

Namun ada beberapa hal yang aku perhatikan ketika kami ospek di GOR tadi.
Pertama, suara FMIPA lemah sekali jika dibandingkan dengan fakultas lain. Aku tidak tahu apa penyebabnya.
Kedua, kurangnya koordinasi antakorlap. Itu terlihat sekali ketika korlap utama memberikan aba-aba tetapi korlap yang lainnya masih terkesima dengan pertunjukkan yang ada.
Ketiga, ketika ada hiburan pertunjukkan menyanyi kami diminta untuk diam padahal fakultas yang lain ikut menyanyi. Apalah yang dapat kami lakukan selain mengkuti komando dari korlap. Akhirnya fakultas kami berasa krik krik.

Sekian postingan ospek hari pertama ini… Aku hanya sembari mengingat-ingat apa saja yang aku lakukan kala itu 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s