OSPEK! Day 2

Kali ini aku ingin bercerita tentang hari yang bersejarah untukku. Kelanjutan dari cerita yang aku posting kemarin. Yang aku yakin, tak semua orang dapat mengalaminya. Aku bersyukur… Tuhan masih memberikan jalan kepadaku untuk menggapai cita-cita di masa kecilku, menjadi seorang calon pendidik…

Selasa, 26 Agustus 2014

Tepat pukul 01.00 aku terbangun karena hasrat ingin buang air kecil yang sudah tak tertahan. Aku beranjak dari tempat tidur dengan rambut acak-acakkan. Aku berusaha mengumpulkan tenagaku kembali. Aku menuju ke kamar mandi, melakukan hal yang harus ku lakukan tadi.

Aku kembali ke tempat tidurku. Kembali berselimut, memeluk guling dan pindipi (read : boneka panda kesayanganku) dan dengan segera aku terlelap dalam hangatnya selimut yang dibelikan ibu dua bulan yang lalu.

Seketika aku terperanjat setelah mendengar suara simbah, “glo, Pin wes digoleki kancane” (ini lho Pin, sudah ditunggu temannya). Aku menatap jam hp yang aku letakkan di sebelah bantalku. Alamaaakkk sudah jam 05.00. Aku bergegas mengambil pakaianku dan langsung menuju kamar mandi. Aku mandi tergesa-gesa sekali. Bukan karena aku membiarkan temanku menunggu lama tetapi karena aku takut terlambat. Itu hal yang memalukan untukku. Selesai mandi aku sesegera mungkin mengenakan kerudung putih non-transparanku dan segala atribut lainnya. Aku sudah tidak peduli dengan bedak bayi yang biasa aku taburkan di wajahku. Ataupun parfum beraroma cokelat yang selalu aku semprotkan untuk wewangian bajuku. Aku bahkan melupakan sarapanku. Segera aku memakai kaos kaki dan sepatuku. Aku gemetar, aku takut.

Untung saja semua tugas sudah aku selesaikan dan sudah aku tata rapi di ransel cokelatku sehingga aku tinggal membawanya saja. Setelah itu aku nekad mengemudi sepeda motorku dalam keadaan gemetaran. Biasanya di jalan aku dan Gandes mengobrol walupun hanya sedikit, tapi kali ini tidak. Aku tidak bisa membiarkan diriku terhanyut dengan obrolan yang akan membuat kecepatan sepeda motor yang aku kendarai menurun. Aku tidak boleh terlambat hari ini! Kenapa aku tadi harus tidur lagi? Pertanyaan itu berkecamuk dalam otakku selama aku mengendarai di jalan.

Sampailah kami berdua di parkiran fakultas yang terletak di lingkungan laboratorium. Aku sesegera mungkin melepas masker dan segera memakai atribut ospek yang diwajibkan. Ada seorang mbak-mbak panitia mengingatkan “pelan-pelan saja dik, masih 15 menit lagi.” Aku merasa lega tetapi tetap saja aku panik. Aku dan Gandes segera berlari menuju gerbang dekanat utama. Kakak-kakak SPK segera mengecek perlengkapanku, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kakak SPK menyuruhku untuk melepas jas almamater yang aku kenakan karena dress code hari ini adalah kaos kampus UNY. Oh iya hari ini aku menggunakan kaos UNY yang berukuran S yang masih longgar sekali ketika kupakai. Kaos berwarna biru muda dengan lambang kampus di saku dada kiri dan berlengan pendek sehingga mengharuskan kami yang berkerudung ataupun tidak untuk menambahinya dengan menggunakan manset atau dekker. Aku memutuskan untuk menggunakan manset karena lebih nyaman. Setelah diperiksa aku diperbolehkan masuk dan melakukan registrasi. Setelah registrasi aku bergegas menuju kelompokku berada. Segera aku mencari mbak pemandu dan melakukan tanda tangan serta menyerahkan tugas artikel yang ditugaskan kemarin.

MC mengingatkan waktu makan tinggal beberapa menit lagi, aku segera memakan penugasan roti yang sudah aku beli bersama teman-teman kelompokku kemarin sore di KOPMA. Jujur, aku masih merasa lapar pagi ini. Kemarin aku masih sempat sarapan walaupun hanya satu sendok tapi sekarang aku belum sempat sarapan dan aku masih merasa “grusa-grusu”. Aku menghabiskan rotiku pas, ketika MC menangatakan waktu makan telah habis dan kami harus segera bersiap menuju GOR untuk ospek universitas hari kedua. Aku bertanya pada mbak pemandu apakah kertas asturonya masih akan digunakan atau tidak, mbak pemandu mengatakan tidak dan meminta semua kertas asturo untuk dikumpulkan. Sampai aku menulis cerita ini aku tidak mendapatkan kertas asturoku kembali…Sebelum kami berangkat ke GOR, panitia menyalakan semangat kami agar kami tidak kalah suara dengan fakultas yang lain. Panitia rupanya juga tahu bila kemarin suara FMIPA lemah sekali. Kakak-kakak panitia mengetes suara kami. Aku langsung bersemangat ketika menyanyikan yel-yel FMIPA. Aku tidak bisa terima jika fakultasku ini diremehkan oleh fakultas yang lain. Mungkin rasa nasionalisme dalam fakultas? Entahlah.

Masih sama seperti hari kemarin kami menuju GOR dengan cara berbaris dua-dua dan melewati trotoar yang berbeda hanya pada jalan menuju kesana. Jika kemarin kami melewati lapangan-lapangan maka hari ini kami hanya melawati lapangan tenis outdoor dan lapangan sepak bola lalu menyeberang ke kanan menuju GOR. Informasi dari kakak tingkat, hari ini fakultas kami akan berada di tribun sama seperti fakultas yang lain. Aku memasuki GOR, aku masih merasakan suasana suporteran. Apalagi aku akan duduk di tribun. Aku menelusuri jalan tribun ini, menaiki tangga satu per satu mencari tempat kosong untuk duduk. Sampai aku menemukan tempat kosong di tangga tribun paling atas, tepat di atas pintu masuk/keluar tribun. Aku duduk, meletakkan tas inspirator mipa dan botol air mineral di belakangku. Ternyata kami duduk di tribun di belakang panggung. Di sebelah kami ada FIS, FIP, FIK, FBS, FE, dan disebelah kanan ada FT. Kakak-kakak panitia ospek FMIPA berlalu lalang dihadapanku. Ada yang cuma lewat, ada yang menanyakan sakit atau tidak, ada yang naik ke tempat duduk paling atas untuk berjaga, dan mungkin ada juga yang sekedar tebar pesona pada kami? *ups.

Sama seperti hari pertama, masing-masing fakultas menyanyikan yel-yel masing-masing. FT dan FIK seakan bersahut-sahutan disusul dengan FBS. Sementara FMIPA tetap kalem. Ketika MC membuka acara, menyapa tiap fakultas, dan menyapa FMIPA maka kami menjawab “luar biasa, luar biasa, luar biasaaaa…” Oleh kakak-kakak panitia kami dibagikan buku profil UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) universitas karena acara hari ini ternyata adalah parade UKM universitas. Aku membuka dan mebaca beberapa profil UKM tersebut, aku belum menemukan hal yang menarik. Acara dimulai, aku lupa urutan parade UKM yang ditunjukkan sehingga aku tidak akan menceritakannya *peace*. Setiap UKM sepertinya hanya diberikan waktu yang sedikit untuk parade. Ternyata UKM yang disediakan oleh universitas sangat banyak, aku bingung jika harus memilih yang mana. Jujur aku belum ada pemikiran untuk mengikuti UKM. Setiap UKM menyapa setiap fakultas tapi ada satu UKM yang tidak menyapa FMIPA padahal aku sudah bersemangat untuk meneriakkan jargon fakultasku. Semangatku langsung down, aku merasa kesal pada mbak yang bertugas mengenalkan UKM tersebut. Ya mungkin mbaknya grogi atau bagaimana aku juga tidak tahu. Yang jelas aku kesal.

Aku semakin menikmati pertunjukkan parade UKM ini, begitu menghibur tetapi ada beberapa UKM juga yang justru membuat aku mengantuk. Overall, semuanya bagus, semuanya keren, semuanya memberikan yang terbaik untuk UKM masing-masing. Di sela-sela parade UKM juga dihibur oleh nyanyian-nyanyian yang membangkitkan nasionalisme. Aku hanya bisa bernyanyi dan mengibas-ngibaskan slayer yang aku punya mengikuti komando dari mas-mas korlap. Oh iya, hari ini korlapnya bertambah satu sehingga menjadi empat orang. Satu untuk tribun laki-laki di bawah dan tiga untuk perempuan di tribun atas. Rasa laparpun menyerangku, aku memakan jatah rotiku yang tinggal sebungkus. Namun aku masih merasa lapar, lalu Agnes membuka jatah rotinya dan membaginya padaku. Aku tentu dengan senang hati menerimanya. Aku mengambil secuil saja, kalau semua nanti Agnes tidak jadi makan. Kemudian si Oktian juga membuka rotinya, aku ditawari, akupun mencuilnya sedikit. Lumayanlah, pengganjal perut. Aku hanya berkata dalam hati, betapa baiknya temanku ini dan betapa baiknya Tuhanku menyuruh mereka untuk berbagi roti denganku.

Adzan dhuhur berkumandang, maka tibalah waktu ishoma. Aku mengeluarkan tas mukena dan botol air mineral dari dalam tas biru inspirator mipaku. Aku dan teman-teman berurutan turun dari tribun dengan hati-hati dan berbaris dua-dua. Biar tidak terlihat jomblo mungkin 😐 Aku berpasangan dengan Agnes lagi. Aku dan Agnes menuju konblok di dekat parkiran mobil. Aku meletakkan alat solatku di tempat kosong yang ada lalu bergegas untuk wudhu. Agnes yang aku suruh untuk wudhu duluan lalu bergantian aku. Seusai wudhu aku melihat ternyata tempat yang aku incar untuk solat sudah dipakai orang lain, terpaksa aku hars mencari tempat lain. Tidak jauh dari tempat itu ada tempat kosong, di sebelah pohon kecil. Aku menggelar sajadahku, niatku masih sama seperti kemarin. Aku hanya ingin mendapatkan ridho dari Tuhanku dengan menunjukkan bukti cintaku pada-Nya. Di siang yang terik ini, di sebelah pohon yang rindang ini, aku berharap berkah dari Tuhan, kelancaran untuk hari ini. Aku solat rakaat pertama, tiba-tiba ada angin sepoi-sepoi lagi berhembus menerpa mukena dan diriku. Begitu segarnya, begitu baiknya Tuhanku memberikan berkah-Nya pada hamba yang selalu berbuat kesalahan ini. Sungguh, aku lega sekali. Seolah-olah aku sedang benar-benar dalam keadaan haus, lalu ada yang memberikan minuman es segar untukku. Begitu nikmat. Alhamdulillah, satu pelajaran berharga lagi yang aku dapatkan siang ini. Setelah aku selesai solatpun masih terasa sisa angin yang berhembus tadi, panas matahari ini tidak terlalu menyengatku walaupun mataku sampai tidak bisa membuka karena begitu teriknya. Berkah dari Tuhanku lagi. Alhamdulillah. Aku melipat mukenaku dan memakai kaos kaki dan sepatuku kembali, baru aku melipat sajadahku. Lalu aku menunggu Agnes yang belum selesai melipat mukenanya. Setelah itu kami segera memasuki GOR lagi, aku melewati pintu yang tepat berada di tempat dudukku tadi. Lalu berjalan melewati tangga yang ada di tribun tengah. Sampailah aku di tempat dudukku.

Kemudian makanan datang, menunya berbeda hari ini. Kami mendapatkan nasi, ayam crispy, saos dan air mineral gelasan. Aku segera melahapnya, tentunya tak lupa aku berdoa terlebih dahulu. Di tengah-tengah makan, temanku ada yang mengkritik, “kenapa makanannya bisa kurang? apa tidak dihitung jumlahnya berapa?” Aku hanya bisa berekspresi “iya ya”. Sampai akhirnya makananku habis dan aku meletakkan kotak nasi dan bekas gelas air minumku ke trash bag. Alhamdullah, kenyang sekali. Aku melihat temanku yang tadi belum mendapatkan makan siang diberi nasi bungkus oleh panitia. Isinya sama hanya bungkusnya yang berbeda dan sepertinya porsi nasinya juga berbeda, lebih banyak, sedikit. Namun aku tidak peduli, itu sudah menjadi rezeki teman-temanku. Aku senang karena setidaknya mereka sudah mendapatkan makan siang.

Aku kembali bercengkrama dengan teman-temanku. Menyibukkan diri agar tidak terserang rasa kantuk. Namun ada saatnya dimana kami lelah untuk berbicara dan bercanda karena keadaan perut yang sudah kenyang. Aku hanya diam mencoba fokus pada pertunjukkan UKM. Saking fokus dan spanengnya aku, mataku benar-benar ingin menutup. Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi, aku tidak boleh tidur. Aku mencoba berkomunikasi dengan teman sebelahku, dengan Agnes, Oktian, dan Dini. Namun Dini terlihat sangat lelah dan mengantuk sampai-sampai ada beberapa kakak P3K yang datang menanyakan apakah Dini sakit, padahal Dini hanya mengantuk.

Memasuki waktu ashar, acara sudah selesai. Acara ini lebih cepat dari kemarin, kami dipulangkan lagi ke fakultas. Aku meletakkan tas inspirator mipaku sembarang, yang penting di tempat kelompokku dan bergegas menuju masjid kampus untuk menunaikan ibadah solat ashar. Di masjid sudah banyak mahasiswi yang mengantri untuk berwudhu. Aku harus berdesak-desakan lagi di tempat wudhu putri ini. Ah aku merasakan gregetnya ospek, lagi. Aku senang karena banyak orang yang ingat pada Tuhannya, pasti Tuhan sangat senang denga pengabdian mereka. Aku bergegas wudhu dan menuju lantai dua untuk menunaikan ibadah. Seusai solat aku menuju dekanat utama fakultas dan segera mengeluarkan alat tulis untuk mencatat penugasan untuk hari esok.Sebelum tugas dibacakan, seperti hari kemarin kami mendapatkan snack sore. Aku memakan habis snack yang diberikan karena aku memang lapar. Kemudian tugas dibacakan. Setelah tugas dibacakan, kami bersiap untuk pulang. Kami mengambil topi toga, ransel, dan helm yang sejak pagi tadi dikumpulkan. Aku menuju ke parkiran, menunggu Gandes setalah kemarin dia yang menungguku. Aku meletakkan topi toga dan co cardku ke dalam kresek hitam besar yang dibawa Gandes kemarin. Berakhirlah sudah acara di kampus hari ini…

Aku benar-benar merasa senang tapi juga lelah. Masih ada ospek fakultas setelah ini selama tiga hari. Aku berusaha untuk tetap optimis pada keyakinan “ospek di kampus tidak sekejam MOS SMA”. Di jalan aku dan Gandes bertukar cerita tentang ospek hari ini. Sampai akhirnya kami sampai rumahku dan Gandes pulang ke rumahnya…

NB :
Aku sebenarnya tertarik dengan beberapa UKM seperti SAFEL, Penelitian, KOPMA, SICMA, Madawirna, dan Magenta Radio tapi aku tidak mungkin mengikuti semuanya, kan? Aku ingin fokus dulu dengan semester pertamaku, setidaknya tahun pertamaku ini harus cumlaude. Aku akan ikut UKM apa nanti, ya dipikir nanti saja. Kuliah dulu yang bener, biar orang tua bangga, biar keluarga senang, biar punya bekal ilmu yang baik, biar diberkahi Tuhan. Yuk semangat kuliah! Yuk cumlaude! Yuk cari berkah Tuhan! Yuuukkk~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s