#KuliahPerdana

Kali ini aku ingin bercerita tentang pengalaman masuk kuliah pertamaku. Untuk postingan OSPEK! aku pending dulu~

Senin, 8 September 2014

Aku mendengar bunyi alarm hpku sekitar jam 05.00. Aku tidak buru-buru bangun karena aku sedang tidak melaksanakan ibadah. Aku bermalas-malasan di tempat tidurku, menggeliat ke kanan dan ke kiri, merenggangkan otot-otot dan mengumpulkan kembali tenaga dan nyawaku. Setelah merenggangkan otot, aku memanggil adikku dan menyuruhnya untuk bangun karena hari sudah pagi dan dia belum melaksanakan ibadah. Aku berteriak dari dalam kamarku, ku panggil-panggil nama adikku sampai akhirnya dia bangun. Aku yang masih “kriyip-kriyip” menutup mataku lagi. Tidur setengah jam lagi tidak apa-apalah, nanti jam 6 baru bangun, gumamku. Benar saja, jam 06.00 tepat aku bangun. Aku menuju kamar mandi untuk menyelesaikan pekerjaan mencuci baju yang semalam aku tinggalkan karena sudah lelah. Tinggal membilas sekali saja. Aku menuangkan pewangi ke dalam bak besar yang berisi pakaian basahku lalu membilasnya. Aku menjemurnya di lantai atas rumah simbahku, yang belum jadi.

Usai mencuci aku mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Ya teman, hari ini aku resmi masuk kuliah untuk pertama kalinya. Rasanyaaa… nervous gitu. Karena aku belum mengetahui ruangan yang akan digunakan sebagai kelas pertamaku, aku janjian dengan Aza. Kami janjian berangkat jam 08.00. Di jalan aku “menggas pol” sepeda motorku. Aku tidak mau ditinggal Aza, aku tidak mau “kilang-kilong” seperti orang hilang sendirian. Namun di jalan ternyata aku banyak tercegat oleh lampu merah dan macet, serta tadi hampir saja diserempet orang. Alhamdulillah Allah masih memberi nafas hingga sekarang.

Akhirnya aku sampai di kampus pukul 08.30 an. Di dekanat utama sudah ada Aza, Amaliyah, Nia, Okta, dan satu orang lagi aku lupa namanya. Beberapa saat setelah aku mendaratkan bokongku untuk duduk di tengah-tengah Aza dan Amaliyah, Nia dan temannya pergi untuk mengecek ruangan. Akhirnya tersisa kami berempat, aku ingin ikut Nia tetapi ditahan oleh Aza karena ternyata Amaliyah sudah tahu ruangannya. Aku merasa lega. Aku kembali duduk dan berceloteh ria dengan teman-teman baruku itu.Jam 9 kurang seperempat kami memutuskan untuk pergi ke ruang kelas, di lantai dua pojok timur di dekat tangga. Ketika kami sampai di sana ternyata sudah banyak teman-teman yang di sana dan ternyata ruangannya masih digunakan kelas lain sehingga kami harus menunggu. Tidak berapa lama kemudian, kelas sudah kosong dan aku langsung masuk untuk mencari tempat duduk yang strategis. Alhamdulillah, aku mendapatkannya. Aku duduk diapit oleh Aza dan Amaliyah lagi. Mata kuliah pertamaku adalah Bahasa Inggris. Sudah jam 9 lebih tetapi dosen Bahasa Inggris belum juga hadir. Jangan sampai kosong, jangan sampai kedatanganku ke kampus sia-sia, aku berharap dalam hati. Di kelas, aku berkenalan lagi dengan teman-teman yang aku kenal lewat facebook. Aku mulai tahu wajah asli mereka, karakteristik mereka, sikap dan sifat mereka sedikit demi sedikit. Sudah banyak teman yang mengedarkan buku SKSD (Sok Kenal Semakin Dekat) sebagai tugas dari kegiatan ospek jurusan yang akan dilaksanakan pada akhir bulan ini. Padahal aku belum membuatnya. Harusnya aku membuatnya malam ini tapi aku malah menulis cerita ini sekarang. Ah tidak apalah, besok kuliah jam 9 lagi kok 😀

Beberapa saat kemudian seorang ibu berseragam biru muda memasuki kelasku, membawa ransel berwarna biru muda juga. Kami terdiam dan mengira-ira dan ternyata beliau benar dosen kami. Berbeda dari yang ada di jadwal, seharusnya yang mengajar kami adalah seorang bapak ternyata bapak dosen tersebut sedang akan mengerjakan ibadah haji, ibu dosen menjelaskan. Semoga haji beliau mabrur dan semoga aku bisa mengikuti jejak beliau untuk bertolak ke kota suci Mekkah, aamiin. Kami berkenalan dengan ibu dosen bahasa inggris tersebut. Beliau mengatakan bahwa beliau dulunya adalah seorang professional doctor but in 2007 she became a lecturer until now. Aku terdiam, kagum dengan prestasi ibu dosen baruku ini. Kemudian beliau memberikan kami tugas yaitu interview dengan teman sekelas kami, lalu menuliskannya dalam bentuk descriptive text dan dikumpulkan di loker beliau. Beliau menyuruh kami untuk berhitung sampai 16. Aku mendapatkan angka 5 dan ternyata partnerku adalah seorang laki-laki. Namanya Rian. Setelah itu kami duduk hampir berhadapan, kami mulai berkenalan tetapi kikuk sekali. Ya untuk sekedar formalitas, mengerjakan tugas pertama dari ibu dosen. Oh iya, aku memiliki teman yang berasal dari luar negeri, dari Burundi, Afrika. Dia bernama Theo, dia lebih tua sembilan tahun dari aku. Aku dan teman-temanku sempat ngobrol dan bercanda bersamanya. Sewaktu kami melakukan percakapan bahasa inggris gagal, ibu dosen permisi untuk meninggalkan ruang kelas. Aku hanya melihat beliau pergi kemudian fokus untuk melanjutkan percakapan absurd ini 😀 Setelah percakapan bahasa inggris yang kikuk itu aku kemudian merangkumnya menjadi sebuah descriptive text seperti apa yang ibu dosen minta.

Pada waktu merangkum itu kelas kami sekaligus membentuk pengurus kelas. Sudah ada ketua kelas, sekretaris 1 dan 2, bendahara 1 dan 2. Kemudian si ketua bertanya, siapa yang mau jadi wakilnya? Temanku dengan entengnya mengajukan namaku, aku kaget dan si ketua menyetujuinya kemudian langsung meminta voting dari orang satu kelas. Mayoritas mengatakan setuju dan aku bisa apa? Ha? Aku padahal berteriak, “tidaaakkk, aku ndak mauuu, kenapa kalian jahaatt, ndak mauuu” tapi tidak mempan, tetap saja aku yang menjadi wakil ketua. Fixed. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, sesuai jalanku atau tidak, tapi aku yakin pasti Allah yang menjadikan ini hal ini terjadi dan pasti ada berkah Allah di dalamnya. Mungkin ini cara Tuhanku untuk mendekatkan aku pada-Nya. Aku hanya bisa menuruti dan menaati sesuai kemampuanku.

Setelah acara pemilihan wakil ketua kelas secara paksa itu aku keluar untuk menuju kantor kepala jurusan mengantarkan temanku yang sedang bermasalah dengan jadwal mata kuliah. Aku naik ke lantai 3 untuk pertama kalinya. Setelah urusan temanku beres kami bertiga menuju mushola untuk menunaikan ibadah. Yang solat kedua temanku, aku tidak. Setelah itu aku yang sudah merengek lapar kemudian menuju kantin untuk mengisi perut. Pertama kalinya aku memasuki kantin fakultas ini. Kami bertiga memesan bakso biasa dan es jeruk. Nikmat sekali. Ah aku mau lagi datang ke kantin itu~Aku kenyang. Kami kemudian membayar bakso, es jeruk yang kami minum ternyata ditraktir oleh Amaliyah. Ah dia baik sekali. Kami keluar dari kantin, melewati gang dan sampailah di parkiran mobil dosen. Aku melihat mas korlap utama haha seketika aku ingat Agnes karena dia begitu ‘ngefans’ dengan mas korlap utama itu. Sepertinya dia menuju ke masjid. Keluar gerbang dekanat utama aku bertemu dengan Gandes dan Ayu, aku langsung bercerita kalau aku menjadi wakil ketua kelas. Mereka hanya bisa berseru “woooo” aku tersenyum kecut. Kemudian aku segera berpamitan dengan Gandes dan Ayu karena aku, Aza dan Amaliyah akan mengambil buku di LPPMP UNY.

Aku berjalan menelusuri trotoar, melewati KOPMA dan melewati sisi dari fakultas ekonomi. Sampailah kami di LPPMP. Aku memasuki gedung dan segera mengisi data diri serta menunjukkan kartu tanda mahasiswaku. Selanjutnya aku mendapatkan 9 buah buku mirip novel tetapi itu buku pelajaran. Aku memasukkannya ke dalam tas dan segera menuju ke kampus lagi karena hari ini aku ada janji dengan kelompok ospek jurusanku untuk mengerjakan co card. Sebelum sampai kampus, aku mampir ke KOPMA, aku haus, aku membeli teh kotak. Setelah itu aku dan Aza menuju ke kampus karena Amaliyah menyuruh kami duluan. Sampai di gerbang dekanat aku dan Aza berpisah, aku menuju dekanat selatan (deksel) untuk bertemu teman kelompokku sementara Aza menuju ke parkiran.

Aku berjalan ke deksel sembari mengirimkan pesan singkat kepada teman sekelompokku. Aku sampai di deksel dan menunggu cukup lama, kelompokku tidak juga muncul. Untung saja di dekanat selatan ada teman sekelasku dan ada pak ketua kelas jadi aku tidak merasa sendirian. Sampai akhirnya mbak pemanduku datang bersama beberapa orang teman sekelompokku. Lalu kami mengerjakan cocard yang harusnya berbentuk manggis tetapi malah lebih mirip seperti terong. Entahlah. Sampai aku menulis cerita ini co cardku belum aku sentuh lagi. Setelah ini mungkin, aku harus menyelesaikannya sebelum aku lelah. Selagi kami mengerjakan co card dengan senangnya, ternyata jurusan pendidikan kimia mengadakan technical meeting 2 untuk ospek jurusan mereka di dekanat selatan. Suasana menjadi ramai.

Pukul 16.00 kami mengakhiri kegiatan menggunting kertas dan menggambar co card. Besok dilanjut lagi, semuanya sudah lelah. Kemudian kami pulang. Yeheeeeyyyy….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s