My Heroes #2

Apin-bapak-FachriSedikit deskripsi mengenai bapak saya. Bapak saya tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang pria. Beliau memiliki rambut hitam lurus. Beliau berkumis, kumis itu menjadikan beliau percaya diri dan terlihat gagah berwibawa di mata saya. Beliau memiliki dan menurunkan gen gigi yang persis dengan saya dan adik saya. Bapak saya juga kadang berjerawat karena kulit beliau memang sensitif dan itu juga diturunkan pada saya. Bedanya jerawat saya tidak sebesar yang dimiliki oleh bapak. Di balik penampilan beliau yang terkesan garang, beliau adalah sosok yang hangat dan menyukai candaan. Buktinya, beliau sering mengejek saya dan itu sukses membuat keluarga kecil kami tertawa puas kecuali saya. Di depan anak-anaknya, bapak selalu menunjukkan sikap tegar dan menegarkan anak-anaknya tapi di balik itu semua saya tahu bapak menyimpan sedihnya yang mungkin hanya ibu, bapak, dan Allah lah yang mengetahuinya.

Fakta menarik tentang bapak saya…

Sewaktu saya kecil, saya tidak pernah potong rambut di salon karena saya memiliki tukang potong pribadi, yaitu bapak saya. Ya, bapak yang bertugas untuk merapikan rambut saya ketika saya sudah merasa tidak nyaman dengan rambut saya. Sayangnya, bapak saya hanya bisa memotong rambut dua model, potongan dora dan potongan cepak. Akibatnya, gaya rambut saya ya hanya dua itu. Sampai akhirnya sewaktu kelas 6 SD saya bosan dan memutuskan untuk memotong rambut dengan cara saya sendiri. Kebetulan waktu itu bapak memiliki gunting yang sekaligus ada sisirnya sehingga rasa penasaran membuat saya melakukan eksperimen kecil terhadap rambut sepunggung saya. Hasilnya… not too bad 🙂

However, I miss my old hair. When I have hair like dora and when I don’t need to go to salon because I have a great hairstyler. Di Jogja, mau tidak mau saya harus ke salon ketika saya ingin memangkas rambut. Namun entah mengapa sekarang ini saya sedang ingin memanjangkan rambut. Hmm…

Fakta yang lain tentang bapak saya adalah sewaktu kecil sosok bapak itu sangat menakutkan bagi saya karena bapak saya sering menggunakan tangan kepada saya. Ketika saya nakal sedikit langsung dicubit, dijewer, bahkan bisa sampai ditendang. Ya wajar, mungkin karena saya terlalu nakal. Ibu juga bersikap demikian. Hal itu yang membuat saya seperti memiliki jarak dengan orang tua saya. Ketika saya berbuat kesalahan di depan bapak maka bapak akan langsung memelototi saya dan saya pasti akan langsung ketakutan lalu segera menuruti kata-kata beliau. Sampai dulu ada teman SD saya yang mengatakan bahwa dia takut melihat bapak saya. Namun semenjak saya berada di Jogja semua itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sewaktu saya kecil. Sekarang bapak saya serasa teman saya sendiri. Beliau banyak memberikan nasihat-nasihat yang luar biasa kepada saya. Beliau tidak pernah terlihat marah lagi kepada saya, beliau selalu menanggapi kata-kata saya dengan candaan. Bahkan sekarang bapak sering mengejek saya karena tubuh saya yang kecil dan pendek. Sering pula menggoda siapa pacar saya. Hhhh gebetan aja ngga punya, gimana pacar 😐

Bapak senantiasa mengarahkan saya walaupun hanya lewat telepon. Bahkan sekarang bapak dan ibu sering frontal dengan mengatakan merindukan dan ingin sekali bertemu anak-anaknya. Seketika ekspresi saya akan berubah ketika mendengar kata-kata itu lewat telepon. Saya akan diam dan tiba-tiba butir-butir air akan jatuh dari mata saya. Saya pasti akan menangis. Mungkin saya terkesan cengeng tapi saya akui saya juga merindukan kedua orang tua saya. Orang yang sudah bersusah payah mengupayakan apa pun yang terbaik untuk saya. Namun saya berusaha untuk menegarkan suara saya agar bapak dan ibu tidak tahu kalau saya menangis.

Sewaktu saya akan melanjutkan jenjang SMP, bertepatan dengan wisuda S1 bapak. Harusnya bapak ke Jakarta untuk melakukan wisuda tapi bapak mengurungkan niatnya karena mementingkan sekolah saya. Uang yang digunakan untuk wisuda bapak digunakan untuk rencana sekolah saya. Betapa bapak sangat memikirkan pendidikan saya sampai-sampai beliau tidak menghadiri upacara wisudanya.

Kisah menarik lain tentang bapak adalah pemikiran bapak yang sangat luar biasa tentang bagaimana beliau membiayai masa depan anak-anaknya. Setelah membuka kios, bapak memutuskan untuk membuat depo isi ulang air minum kemasan galon. Air minum galon itu akan diedarkan ke desa-desa terdekat dari kios setiap hari setelah ashar bergantian menggunakan mobil sejenis pick up lawas milik bapak. Yang membuat saya geli sekaligus kagum adalah slogan yang ada di penutup bak mobil. Di sana bapak menuliskan kata-kata “Ngalor ngidul nggowo gendul” (Ke utara dan ke selatan membawa botol). Ketika saya tanya lebih lanjut mengenai slogan itu bapak malah menambahkan, “ngetan ngulon nggowo galon” (ke timur dan ke selatan membawa galon). Bapak mengatakan, kan rumah bapak dan ibu itu lor-kidul (utara-selatan) sehingga slogan yang dipakai adalah slogan yang pertama. Slogan kedua hanya untuk pelengkap saja. Ketika saya mendengar slogan kedua bapak saya bertambah geli. Terdengar lucu namun kreatif. Bapak selalu bilang, “bapak mau keliling jualan air galon dulu, biar dapat uang, biar kamu bisa tetep kuliah. Maka kamu jangan boros-boros menggunakan uang yang dikirimi ibu atau bapak.” Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika bapak mengatakan hal itu.

Moment Lebaran. Keluarga kami memiliki tradisi sungkeman setelah usai sholat idul fitri. Alhamdulillah bapak dan ibu bisa merayakan lebaran di Jogja, bersama dengan saya, adik, dan simbah. Lengkap. Pertama bapak dan ibu sungkem kepada simbah. Kedua ibu sungkem pada bapak. Terakhir saya dan adik sungkem pada bapak dan ibu. Ketika sungkem pada bapak, saya tidak bisa menahan air mata saya. Sebelum saya terisak, bapak buru-buru mengatakan, “udah, belajar aja biar pinter.” Singkat tapi bermakna. Saya tahu bapak juga menyimpan tangisnya tapi tidak ditunjukkan, beliau pasti tidak mau terlihat lemah di depan keluarganya.

Sebelum idul adha kemarin bapak tiba-tiba menyuruh saya untuk pulang ke Kalimantan Tengah padahal perkuliahan tidak ada libur khusus. Alasan bapak sederhana, mau diajak ke rumah teman lama bapak kalau cuaca panas. Saya mengernyitkan dahi. Lalu bertanya apa maksudnya. Bapak mengatakan, kalau jalan menuju rumah teman bapak baru saja dibuat jembatan jadi bapak ingin berkunjung karena sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman lama bapak itu. Selain itu di dekat daerah teman lama bapak ada tempat wisata yang cukup menarik, saya lupa apa namanya. Saya hanya bisa mengatakan, “oooo” dan menjelaskan bahwa saya tidak memiliki libur khusus sehingga tidak bisa pulang.

Entah kenapa akhir-akhir ini bapak dan ibu saya sering sekali berkata ingin bertemu dengan saya dan adik. Sebegitu rindunya kepada kamikah? Padahal dulu sewaktu saya masih SMP-SMA orang tua jarang mengatakan secara tersurat mereka merindukan anak-anaknya. Apa mungkin karena mereka merasa saya memang sudah cukup umur? Entahlah. Bapak dan ibu juga sekarang sering mengajak saya untuk berdiskusi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah simbah. Semacam mereka memberikan kepercayaan penuh pada saya untuk mengurus sebuah rumah.

Itu hanyalah sepenggal kisah dan fakta tentang bapak. Masih banyak cerita yang lain tetapi saya sudah lelah ehehehe

Bagaimana saya tidak mengidolakan sosok bapak? Beliau adalah salah satu alasan mengapa saya kuat di Jogja, selain ibu. Beliau yang selalu menyemangati saya ketika lingkungan jogja sedang tidak bersahabat dengan saya. Beliau yang selalu mendengarkan keluh kesah saya, tentang betapa kerasnya hidup ini. Beliau dan ibu yang selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa beribadah. Beliau yang rela menghabiskan pulsanya untuk selalu menelepon saya walaupun kadang saya menjawab telepon dengan nada yang ketus, saya tahu beliau terluka karena sikap saya. Saya telah berdosa karena itu. Saya tahu. Beliau yang mati-matian membanting tulang mencari rezeki untuk kehidupan saya dan adik tapi kadang saya hamburkan begitu saja. Saya juga berdosa akan hal itu. Begitu banyak dosa yang telah saya ciptakan terhadap bapak. Maka semampu saya, akan saya usahakan yang terbaik untuk bapak saya. membuat beliau bangga dengan prestasi saya. Untuk membayar keringat yang telah beliau keluarkan demi saya. Hanya ini yang dapat saya lakukan selain mendoakan beliau dan ibu.

Semoga bapak dan ibu senantiasa sehat, panjang umur, bahagia, dan berada dalam lindungan Allah SWT. Supaya nanti bisa menyaksikan dan mendampingi saya dalam wisuda kuliah. Aamiin~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s