My Heroes #3

Postingan ini adalah kelanjutan dari postingan My Heroes #2 yang dipost bulan lalu. Eh tidak terasa sudah memasuki bulan Desember, bulan terakhir di tahun 2014 ini. Namun tetap saja jomblo. Loh, kok jadi bawa-bawa jomblo? Ah sudahlah, lupakan saja.

Kali ini saya ingin membahas sosok ibu saya. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan seluruh kesabaran dan kasih sayangnya. Yang selalu mendukung apapun keputusan saya yang menurut beliau benar.

ibuSudah pernah saya katakan bawa orang tua saya bukan berasal dari keluarga yang mampu. Kakek dan nenek saya hanya petani dan buruh sehingga zaman dahulu orang tua saya harus berjuang mati-matian untuk melanjutkan sekolah hingga mendapatkan titel sarjana. Semua itu dilakukan tak lain untuk kelangsungan hidup keluarga ke depannya. Dulu ibu juga sempat tidak “mogok” belajar setelah lulus Sekolah Dasar karena keterbatasan biaya, tetapi pakdhe dan budhe saya keukeuh menyuruh ibu untuk sekolah. Urusan biaya biar pakdhe dan budhe yang mengurus dan juga biar setidaknya dalam keluarga ini ada satu orang yang memiliki titel sarjana, begitu ceritanya.

Singkat kata, ibu tetap melanjutkan sekolah dan kuliah beliau hingga meraih predikat S1. Ijazah beliau digunakan untuk melamar pekerjaan menjadi seorang pendidik di salah satu SMP Negeri yang cukup terrkenal di kecamatan Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Dulu setelah menikah ibu sempat dilarang bekerja oleh bapak tetapi ibu berkata bahwa ibu tidak mau ijazah yang dimilikinya menjadi sia-sia sehingga bapak mengizinkan ibu untuk bekerja.

Ibu juga bercerita bahwa dahulu sebelum menjadi seorang guru, ibu pernah bekerja di Malaysia sebagai pelayan. Majikan ibu adalah seorang keturunan Cina dan sangat menyukai pekerjaan ibu sampai berniat ingin menjodohkan anaknya dengan ibu. Ibu tentu menolak dan mengatakan bahwa ibu masih menyukai pria Indonesia, hehehe. Jika saja dulu ibu mau dipinang lelaki keturunan Cina tersebut, pastilah saya tidak akan pernah ada di dunia ini hehehe.

Sepulang dari Malaysia ibu tidak memiliki pekerjaan lagi alias nganggur. Sampai akhirnya bapak (yang dulunya hanya seorang tetangga) menawari untuk ikut merantau ke Kalimantan Tengah, mengabdi pada negara dan masyarakat sebagai seorang guru. Satu tahun di Kalimantan Tengah adalah waktu yang cukup lama untuk menumbuhkan benih-benih cinta antara ibu dan bapak hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membina sebuah keluarga. Bapak dan ibu saya terpaut usia 6 tahun, ibu yang lebih tua. Bapak saya membulatkan tekad untuk melamar ibu. Walaupun awalnya ditolak, bapak dan ibu tidak patah semangat, mereka terus meyakinkan simbah saya hingga akhirnya direstui. Orang tua saya menikah!

Pernikahan orang tua saya tidak dilakukan di gedung, di masjid yang besar, atau di aula, hanya di rumah dan hanya ijab qabul. Tidak ada resepsi, tidak ada kemewahan di dalamnya, hanya kesakralan sebuah pernikahan. Ibu dan bapak menyebutnya, “sewaktu zaman susah”.

Setelah menikah ibu segera mengandung, tetapi baru beberapa bulan ibu mengalami keguguran karena suatu hal. Ibu bilang, itu adalah kakak saya. Karena kejadian itu pada hari Sabtu Legi, maka ibu menamai anaknya tersebut dengan sebutan Tugi. Semoga kakak saya itu bahagia di sana, semoga kelak kakak saya itu bisa meringankan dosa ibu saya. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, ibu mengandung lagi, dan itu adalah saya! 😀

Dahulu saya sempat bertanya, sewaktu hamil saya dulu ibu ngidam apa. Ibu menjawab, ibu pengen sekali buah mangga, dan hampir tidak kesampaian. Ibu dulu juga bercerita bahwa saya lahir dalam keadaan sungsang (kaki dulu yang keluar) dan kaki saya menyatu seperti posisi menepuk kaki (?) berat saya pun hanya sekitar 2,5 kg (itu sudah dengan bedongnya) padahal berat bayi normal adalah sekitar 3-3,5 kg. Ibu mengatakan saya seperti botol air mineral ukuran 1L. Ah entah kenapa orang tua saya selalu meledek saya… Dengan telaten ibu memisahkan jemari kaki saya hingga akhirnya saya bisa menapak, berjalan, dan berlari layaknya anak normal lainnya. Ibu juga bercerita bahwa walaupun saya lahir di tanggal tua tetapi banyak yang datang untuk sekedar menjenguk saya dan ibu. Itu pasti karena perhatian ibu pada tetangga.

Saya juga sudah pernah mengatakan bahwa ibu saya adalah orang yang anti-mainstream. Ibu selalu memiliki cara yang unik untuk menjalani hidupnya. Ibu saya sering bertanya dengan marah-marah tanpa tahu yang kebenarannya tetapi setelah tahu yang sebenarnya beliau hanya tersenyum malu. Ibu juga sering membelikan barang-barang yang cukup unik untuk saya. Terakhir beliau membelikan saya dua buah kaos rajutan bergambar hello kitty yang unyu tetapi sebenarnya lebih cocok dipakai unutk anak-anak sekolah, bukan kuliah. Namun saya tetap saja memakainya, kaosnya nyaman dipakai dan hangat. Sebelumnya ibu membelikan saya helm putih-ungu dengan motif angry bird saat saya berusia 17 tahun. Ibu saya sepertinya menginginkan saya untuk selalu menjadi putri kecilnya, saya tidak diperbolehkan untuk menjadi wanita dewasa hahaha

Ibu saya juga mengakui kalau beliau gaptek (gagap teknologi). Yah, saya akui ibu saya kurang jago dalam mengoperasikan gadget tapi ibu sekarang sedang berusaha untuk belajar menggunakannya. Sampai-sampai ibu membeli laptop baru, saya senang mendengarnya. Dulu, gara-gara ibu yang gaptek, saya yang menjadi korban. Saya disuruh untuk mengetik berbagai macam silabus dan data-data keguruan yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu di sini. Saya yang mengetik, saya yang mengeprint. Kalau saya mengeluh, saya harus siap-siap disemprot dan tidak dapat jatah makan. Namun saya harus menyukurinya, karena berkat itu saya menjadi terbiasa untuk mengetik di komputer maupun laptop.

Semakin bertambah umur, saya semakin menyadari bahwa cinta ibu untuk saya dan adik saya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ketika ibu pulang ke Jogja, ibu selalu menuruti apa yang kami mau. Walaupun terkadang cekcok sedikit, tetap saja ibu menuruti apa yang kami mau. Itu merupakan keuntungan.

Hal yang mengharukan saya adalah ketika saya dinyatakan lolos SBMPTN dan saya segera memeluk ibu saya. Ibu juga balas memeluk dan mencium kening saya, mengucapkan selamat untuk saya. Sungguh saya merasa doa-doa ibu selama ini berfungsi. Sekarang saya tinggal membalas apa yang telah dilakukan ibu untuk saya dengan mendoakan beliau, menjadi anak yang berbakti, yang bisa diajak berdiskusi tentang apapun. Setelah pengumuman SBMPTN, dibarengkan dengan ulang tahun adik saya, ibu membuat nasi kuning sebagai tanda syukuran dan dibagikan ke tetangga dan keluarga terdekat.

Ibu adalah sosok yang mengagumkan untuk saya. Beliau tanpa lelah mengasuh, membimbing, dan mengajarkan saya berbagai hal yang ingin saya ketahui. Dari ibu, saya belajar bagaimana menyeimbangkan antara karir dan keluarga, bagaimana mendidik anak, menjaga suami, patuh pada Tuhan, mengatur keuangan keluarga. Ibu adalah hal terindah yang pernah saya miliki. Tidak akan ada yang dapat menggantikan posisi beliau di hati saya dan tidak akan pernah. Beliau adalah salah satu inspirator saya selain bapak. Yang selalu mengajarkan bagaimana menjadi wanita yang baik. Yang kadang perilakunya menjadi bahan guyonan untuk keluarga karena keunikan ibu. Sungguh saya merindukan sosok ibu, saya rindu membawakan belanjaan ibu, saya rindu memasak bersama ibu, bercanda bersama ibu, berdiskusi dengan ibu. Saya merindukan setiap deru nafas ibu. Ibu juga selalu mengajarkan saya untuk menjadi orang yang rendah hati, tidak boleh mengumbar sesuatu dengan berlebihan karena orang lain belum tentu suka dengan apa yang kita katakan. Saya yang belum bisa membahagiakan beliau, saya yang masih sering mengeluh tentang beliau, tapi saya akan berusaha untuk mewujudkan impian beliau. Saya harus sukses! Saya  harus bisa menunjukkan bahwa ibu adalah pendidik saya yang paling keren.

DSCN3004

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s