Long Trip Ngabuburit

Candid.

Candid.

Minggu, 28 Juni 2015

Ada rapat koor (rakoor) panitia Biometer pagi itu. Janjiannya sih jam 7 tapi baru bisa dimulai sekitar jam 8 kurang dan selesai jam 10.30-an. Memang sudah direncanakan di hari sebelumnya, setelah rapat saya dan geng iyik akan nge-trip bersama. Tujuannya? Air terjun Lepo, Hutan Pinus, dan Puncak Becici. Tempat-tempat yang sedang hits di Jogja.

Jam 11-an kami berangkat dengan formasi Okta-Fia, Apin-Rian, dan Aza sendirian. Menelusuri jalanan dengan penuh suka cita. Berasa kamilah si empunya jalan, haha. Perjalanan sekitar satu setengah jam dari kampus. Cukup lama dan sukses membuat badan pegal-pegal.

Destinasi 1, Air Terjun Lepo (Lepo Waterfall)

Ketimbang air terjun, saya lebih sreg menyebutnya sebagai curug karena aliran airnya tidak terlalu besar seperti air terjun pada umumnya. Sewaktu kami ke sana, aliran airnya sedang tidak seperti biasanya dikarenakan musim kemarau. Unlucky. Namun kami tetap semangat, bermain air, dan berfoto-foto ria. We have to take photos everywhere. Kan bisa untuk ganti display picture BBM, avatar twitter, profil picture Facebook, profil picture Line, avatar instagram, dan lain-lain. Saya tidak sanggup menyebutkannya lebih banyak lagi, intinya ganti foto. ✌

Over all pemandangan di curug Lepo ini sangatlah menakjubkan. Musim kemarau menjadikan langit tanpa awan dan berwarna biru cerah yang memanjakan mata. Air yang mengalir pun terasa sangat sejuk. Kalau ditanya apakah tempat ini recommended, jelas tempat ini sangat recommended! Cocok untuk yang mau titip nama atau salam-salam. Oh ya, untuk biaya, hanya dibebani biaya parkir saja sebesar Rp 2000 tapi itu belum biaya sewa ban dan makan.

Destinasi 2, Hutan Pinus (Pine Forest)

Sebenarnya ini kali kedua saya ke hutan pinus. Pertama kali, dulu bersama mbak Army dan sudah pernah saya ceritakan. Kedua kalinya sekarang, bersama teman-teman seperjuangan kuliah. Tempat yang sama tapi suasananya berbeda. Hutan pinus sudah mengalami “sentuhan tangan manusia” dengan adanya pagar-pagar bercat hijau, gardu pandang, pohon pinus yang ditebang, dan tempat-tempat duduk yang semakin banyak. Yang membuat saya merasa lucu adalah dulu sewaktu pertama kali ke hutan pinus saya hanya berfoto-foto ria. Namun sewaktu bersama teman-teman bukan hanya berfoto tapi kami juga bermain-main dengan strobilus pohon pinus. Maklum, hampir satu semester berkutat dengan strobilus pohon pinus.

Di hutan pinus jugalah kami semakin gila dengan lagu salah satu stasiun tv, gojigo (goyang 25). Entah kenapa hal-hal seperti itu membuat kami “menggila tak ada habisnya”. Setelah puas mengumpulkan foto di hutan pinus, kami berpindah ke destinasi gratis selanjutnya.

Destinasi 3, Puncak Becici.

Nah, ini! Salah satu tempat yang sedang hits di Jogja. Rian yang ngebet ingin berkunjung ke tempat ini. Jalurnya searah dengan hutan pinus walaupun ada belok-beloknya sedikit. Setelah membayar parkir sebesar Rp 2000 kami berjalan menyusuri pohon-pohon pinus menuju tempat yang dinamakan Puncak Becici. Cukup jauh juga dari parkiran, jalannya juga menanjak. Hingga sampailah kami di pinggir tebing Becici yang masya Allah luar biasa pemandangnnya. View-nya mirip-mirip di Puncak Plawangan sih tapi tetap saja luar biasa. Mungkin karena ini pertama kalinya untuk saya di Puncak Becici, hehe. Puncak Becici ini juga mirip dengan Kalibiru, Kulon Progo yang memiliki gardu pandang di atas pohon.

Saya dan teman-teman memberanikan diri untuk menaiki salah satu gardu pandang. Bagi saya yang termasuk orang yang takut ketinggian, ini sangatlah menguji nyali. Namun ada teman-teman yang menyuporteri dan membangkitkan semangat saya untuk ikut-ikutan pecicilan. Hingga akhirnya saya berhasil sampai di atas gardu pandang.

View dari atas gardu pandang? Absolutely great! Ya, sebandinglah dengan perjuangan untuk membangkitkan nyali menaiki tangga gardu pandang. Jarak antartangga yang cukup lebar membuat saya takut jika kaki saya tak dapat menjangkaunya. Namun saya tekadkan untuk menakhlukkan Puncak Becici! HAHAHA jadi harus berani.

Hari semakin sore dan kami belum melaksanakan ibadah Ashar jadi kami putuskan untuk menyudahi foto-foto di Puncak Becici dan mencari masjid terdekat. Dalam perjalanan pulang Rian malah mengajak untuk mampir ke suatu tebing yang baru saya tahu namanya adalah Bukit Bulan/Bukit Bego untuk menyaksikan sunset sebentar. Kami semua menyetujuinya dan jadilah destinasi keempat.

Destinasi 4, Bukit Bulan.

Tak masuk dalam list tempat yang akan dikunjungi sebenarnya tapi sewaktu pulang dari Becici kami tergoda untuk mampir dan menyaksikan sunset di atas bukit tersebut. Cukup membayar parkir Rp 2000 kami mendapatkan pemandangan yang luar biasa. Matahari yang bulat dan akan terbenam memancarkan sinar jingganya yang indah. Rian yang bertanggung jawab dalam pengambilan foto-foto para cewek karena dia tidak mau difoto. Yap! Tempat ini masuk dalam daftar recommended. 

Setelah touring yang cukup panjang ini kami akhirnya melaksanakan ibadah ashar di mushola pom bensin dan sekalian membatalkan puasa. Sebenarnya saya tidak tahu kalau jalan-jalannya sampai waktu berbuka tapi tak apalah, sudah terlewat juga. Setelah meneguk air teh saya dan teman-teman kecuali rian kembali melaksanakan ibadah maghrib di mushola pom bensin. Usai shalat kami memutuskan untuk mencari makanan berat di daerah Jembatan Janti. Usai makan, kami pulang ke rumah masing-masing dan bersiap untuk mengupload foto dan mengupgrade akun sosial media masing-masing.

Huf, touring yang membahagiakan sekaligus melelahkan. Terima kasih teman-teman sudah mengajakku untuk mengexplore Jogja. Lain kali kita halan-halan lagi yaaaa 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s