Holiday and Lovely Grandma

gws mbah uti...

get well soon mbah uti…

Liburan semester, yes pulang kampung! Begitu pikir saya. Namun apa daya semua itu pupus ketika tiga hari sebelum lebaran simbah putri terkena stroke ringan yang menyebabkan tubuh bagian kirinya lemas dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Kejadian ini membuat saya harus merombak ulang rencana kegiatan liburan “tiga bulan” semester ini. Namanya juga musibah, mana ada orang yang memintanya. Apa yang bisa dilakukan selain sabar dan tetap tawakal kepada-Nya.

Awalnya saya frustasi karena belum terbiasa dengan pola hidup yang baru, bangun ekstrapagi-memasak bubur-memandikan simbah putri-mencuci baju simbah-menyuapi simbah-membantu simbah minum obat-membantu simbah untuk bangun dan tidur-membawa simbah ke rumah sakit untuk kontrol dan terapi. Saya selalu berpikir dan merasa, saya ini hanya mahasiswa yang akan menjalani semester tiga tapi saya harus membagi waktu saya untuk kuliah-tugas-istirahat-urusan rumah-urusan simbah yang terasa rumit dan memberatkan. Sampai akhirnya bapak dan ibu mengatakan kepada saya, “kamu itu sewaktu kecil dirawat simbah selama bertahun-tahun ya anggap saja sekarang kamu balas budi dengan cara merawat simbah. Yang sabar, nduk. Kamu itu sekaligus wakil bapak dan ibu di sini (read: Jogja) untuk berbakti pada simbah.” Mata saya langsung berkaca-kaca, entah kenapa rasanya saya ingin merutuki dan memaki diri saya sendiri yang tak tahu balas budi, yang seperti kacang lupa pada kulitnya.

Saya melihat simbah terpejam di tempat tidurnya, tertidur lelap. Saya duduk di sebelahnya, memandangi wajahnya yang sudah penuh kerutan dan renta. Saya merenung. Beliaulah yang telah melahirkan bapak yang luar biasa untuk saya, beliau juga yang kerap kali menghibur saya di kala tugas menumpuk dengan tingkah absurd-nya, yang selalu bercerita ngalor-ngidul tidak ada titiknya. Saya mengusap kening beliau dan menyibakkan rambutnya ke telinga. Saya membayangkan bagaimana seandainya simbah tiada? Kuatkah saya menerima kenyataan bahwa orang yang selalu saya usili menghilang dari kehidupan saya untuk selama-lamanya. Saya akui terkadang tingkah simbah membuat saya kesal, bete, jengkel, dsb. tetapi bagaimanapun candaan yang kami buat juga telah membuat saya bahagia dan bersyukur karena memiliki beliau.

Sudah satu bulan lebih simbah terbaring di tempat tidurnya. Tak bisa melihat dunia luar, terkurung dalam candaan Tuhan yang dinamakan cobaan. Tak ada kegiatan yang dapat dilakukan selain bangun-tidur-makan-minum-bercerita. Memendam segala keinginan untuk melahap makanan kesukaan dan mengistirahatkan badan secara total.

Simbah sering mengeluh daerah pundak dan bokongnya terasa sakit dan pegal, kata dokter dan terapist-nya itu karena tangan dan kakinya jarang digerakkan. Maka dari itu setiap pagi dan petang tangan dan kakinya selalu saya latih untuk bergerak agar sendinya tidak kaku. Meskipun badan saya sendiri jadi pegal-pegal karena melakukan fisioterapi kecil-kecilan untuk simbah. Tak apa… untuk membalas kebaikan simbah saya akan berusaha. Hitung-hitung jadi suster pribadi simbah juga. Bapak malah bilang, “nggak apa-apa, nok, belajar itu nggak hanya di kampus tapi di mana saja. Nah, sekarang kamu itu malah langsung KKN (Kuliah Kerja Nyata) dengan cara mengurusi simbah.” Saya hanya bisa tersenyum mengiyakan. Seorang teman juga mengatakan kepada saya, “ngga apa-apa, Pin. Itu malah ladang pahala buat kamu.” Semoga saja Ya Allah, aamiin.

Untung saja sekarang ada bude-pakde dan mbah saniyem (tetangga) yang membantu mengurusi keperluan simbah (mandi, makan, minum obat) sehingga semua terasa lebih ringan. Saya bisa pergi ke kampus dengan cukup tenang karena ada yang menjaga simbah di rumah. Saya juga sudah mulai bisa mengikuti acara-acara kampus yang akan berlangsung.

Kalau ditanya apa aktivitas saya selain mengurusi simbah, saya hanya bisa menjawab, banyak. Saya kadang ke pasar, ke toko obat, ke rumah sakit, ke puskesmas, ke kampus, dan akhirnya saya bisa pergi main. Ha-ha-ha. Di rumah terus membuat saya sumpek dan kemrungsung sehingga saya memutuskan untuk “menghirup udara luar” sebentar. Malahan kalau sedang mengantarkan simbah kontrol ke rumah sakit terbesit pikiran nakal di otak saya untuk lirik-lirik siapa tahu ada dokter atau koass ganteng lewat, hahaha. Sepertinya otak saya sudah teracuni virus jomblo kronis…

IMG_20150824_184503

Hikmahnya… saya merasa mungkin inilah cara Allah mendewasakan pikiran saya, menguatkan hati dan mental, dan menjadikan saya sebagai pribadi yang semakin baik lagi. Seperti doa-doa yang selalu saya panjatkan di setiap akhir sholat. Seperti pepatah yang saya temukan beberapa hari yang lalu, “Tuhan menaruhmu di tempat yang sekarang bukan karena kebetulan. Orang yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesukaran, tantangan, dan air mata.” Mungkin Allah inginnya begitu, mungkin. Yang jelas saya hanya bisa menguatkan diri dalam menghadapi “candaan” Allah ini. Saya harus kuat agar simbah lekas sembuh dan dapat beraktivitas seperti sedia kala.

Untuk orang-orang yang telah menguatkan saya, terima kasih. Kalian terbaik! Untuk yang telah terjadi, jadikan pelajaran, ambil hikmahnya. Ngga usah sedih karena kamu akan bahagia setelahnya. You give, you receive. Ayo semangat!!! Masih banyak berkah Allah yang harus dicari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s