Cerita dari 2565 mdpl

20160319_055115

“Pin, besok ikut muncak Prau, yaaa,” ajak Rian.

“Ikut nggak, yaaa” jawab saya.

“Ikut lah. Oke? Oke” balas Rian, mutusi.

“Ya, aku minta izin dulu dari bapak ibu” balas saya.

Ajakan itu terjadi pada sore hari menjelang malam, Kamis, 17 Maret 2016. Saya sedikit syok dengan ajakan itu karena terlalu mendadak dan tidak ada persiapan. Namun, saya juga ingin mencoba melakukan hal baru bersama teman-teman. Akhirnya saya beranikan meminta izin bapak lewat bbm. Tanpa disangka, bapak langsung meng-acc niat saya kemudian menelepon saya untuk meminta keterangan lebih detailnya. Saya menjelaskan semuanya dan bapak tetap meng-acc-nya. Saya langsung memberikan kabar pada teman-teman kalau saya bisa ikutan munggah Prau.

Jumat, 18 Maret 2016

Rencananya, kami pergi ke Wonosobo usai latihan rutin BBC (Biology Badminton Club) jam 16.00 WIB. Ternyata sedikit tertunda karena kami harus sholat ashar dulu dan cowok-cowok menyewa dome/tenda. Akhirnya kami berangkat sekitar jam 17.30 WIB dengan formasi motor : Rian-Okta, Resa-Aza, Ndolin-Apin, dan Kempus-Ein. Resa yang bertugas di depan karena yang dia yang tahu jalan sedangkan Rian di belakang. Mampir SPBU jalan Monjali untuk membeli bensin dan sholat maghrib. Sesudah itu kami langsung cus menelusuri jalan raya, berpacu dengan gerimis yang turun di Jogja.

Perjalanan sekitar 3 jam. Melewati jalanan ramai hingga sepi, gemerlapnya lampu kota dan sunyinya tepi hutan, jalanan lurus hingga berkelok, serta jalanan yang mulus hingga yang bergeronjal. Wah, itu benar-benar memacu adrenalin kami. Perjalanan selama itu benar-benar melelahkan, bahu pegal, bokong panas, dan mata mengantuk.

Pukul 21.00 kami sampai di rumah Resa dan disambut ibunya. Ya, Rian telah mengatakan bahwa sebelum muncak kami akan mampir ke rumah Resa untuk sekedar beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum menapaki jalanan Gunung Prau. Kami disambut dengan wedang jahe yang mulanya panas tetapi segera dingin karena suhu yang rendah di Wonosobo. Setelah merebahkan diri sejenak, kami segera sholat isya agar bisa segera muncak.

Jam 23.00 kami mulai mendaki melalui jalur Patak Banteng. Menurut postingan yang saya baca di internet, jalur ini merupakan alur tercepat untuk mendaki gunung Prau tapi jalannya tidak mulus. Benar saja, jalanannya tidak mulus. Karena masih newbie, kami banyak berhenti untuk istirahat. Lebih tepatnya karena saya ngos-ngosan 😂 Sepanjang perjalanan kami banyak bercanda untuk menghilangkan rasa takut dan sepi. Maklum, jalanan yang dilalui berupa hutan bebatuan yang terjal dan hanya kami yang mendaki.

Sabtu, 19 Maret 2016

Sekitar jam 03.00 kami akhirnya sampai di puncak Prau. Alhamdulilah. Saya melihat langit dengan bintang bertaburan. Mengucap masya Allah berulang kali karena keindahan alam yang terdapat di depan mata. Selain lautan bintang, dari puncak Prau kami juga disuguhi pemandangan kota Wonosobo dengan gemerlap cahaya lampu yang kelihatan berkelap-kelip. Juga gagahnya Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang tegak berdiri seakan ada di hadapan kami. Luar biasa. Setelah itu kami segera mendirikan dome/tenda yang kami bawa. Saya bertugas menyenteri. Setelah dome/tendanya jadi, Rian membagi kami menjadi dua. Dome 1 berisi Rian, Ndolin, Kempus, dan saya. Dome 2 berisi Okta, Aza, Resa dan Ein. Rian memberikan briefing kepada Ndolin dan Kempus mengenai proker orseni himabio dan saya hanya sebagai narasumber saja. Sebenarnya acara muncak ini hanya untuk orseni tetapi Rian mengajak saya dan Aza dengan alasan “biar sewa dome-nya lebih murah”. -_-

Setelah briefing di pagi buta tersebut saya keluar dari dome 1, sementara para lelaki tersebut menghempaskan diri untuk menuju ke alam mimpi. Di luar ada Okta dan Ein yang dengan semangat melihat bintang-bintang. Tak lama kemudian ada bintang jatuh. Wow. Saya terpesona. Alhamdulillah karena kami sampai di puncak Prau dengan kondisi langit cerah sehingga pemandangan malam dapat terlihat dengan begitu indahnya. Ein ngributi menyuruh saya untuk memotret lautan bintang tersebut. Sedari awal saya menyiapkan tab saya untuk memotret sunrise Prau yang terkenal dengan sebutan “golden sunrise” jadi tak apalah kalau untuk memotret bintang. Saya memotret beberapa kali. Namun, karena gelap bintangnya tidak kelihatan.

Tak lama kemudian adzan subuh berkumandang. Saya bingung kalau mau sholat wudhu-nya bagaimana. Akhirnya kami yang sholat dengan bertayamum menggunakan embun yang menempel pada dome karena embun yang ada di tumbuhan hanya sedikit. Saya, Okta, Ein sholat subuh berjamaah diimami oleh Kempus. Setelah sholat subuh, Kempus dan Ein memilih untuk tidur di dome 1 bersama Rian dan berpesan kalau sunrise sudah kelihaan mereka segera dibangunkan. Saya dan Okta tinggal berdua di luar, bersama dinginnya puncak Prau. Menantikan sunrise.

Tak lama kemudian cahaya oranye kemerahan mulai nampak dari ufuk timur, pertanda sunrise akan segera muncul. Saya mulai mengaktifkan kamera untuk memotret keajaiban Allah itu. Semakin lama semakin banyak cahaya oranye kemrahan yaang muncul. Kemudian saya membangunkan dome 1 dan 2 untuk melihat sunrise yang dinantikan. Yang bangun hanya Ein, Kempus, Aza, dan Rian. Sementara Ndolin dan Resa masih berada dalam alam mimpi.

Semakin lama semakin cerah langit timur dan matahari mulai menampakkan dirinya. Kami segera berfoto dan menuliskan salam-salam untuk orang tercinta kami. Saya hanya menulis untuk bapak ibu dan adik karena terbatasnya kertas dan spidol.

IMG_20160319_130438

Terima kasih bapak, atas acc-nya Apin bisa sampai di sini 😊

Setelah itu, akhirnya Ndolin dan Resa bangun dari tidurnya. Kesempatan itu digunakan untuk foto orseni 2016. Yang bertugas mengambil foto? Siapa lagi kalau bukan saya.

Setelah puas berfoto-foto kami memutuskan untuk tidur. Para lelaki menguasai dome 1. Saya belum berniat untuk tidur jadi saya duduk di tikar di luar dome. Masih mengagumi keindahan alam dan mengaabadikannya dalam kamera. Bersama Aza, Ein, Okta, dan Resa, kami duduk-duduk di tikar. Memakan cemilan seadanya. Namun, karena kelelahan kami memutuskan untuk tidur. Resa menyusul laki-laki di dome 1. Sementara Okta dan Aza memepati dome 2. Saya dan Ein, tidur di tikar luar. Menikmati hangatnya sinar matahari pagi.

Jam 09.00 kami sudah bangun semua dan bersiap untuk turun. Semua dome dibereskan beserta sampahnya. Entah karena apa, kami dihadang oleh warga sekitar dan diminta untuk ke base camp. Waktu itu pukul 11.00 WIB. Resa dan Kempus yang menemui bapak yang menghadang kami. Kemudian dia mengatakan kepada kami, ternyata kami disuruh membayar masing-masing Rp 30.000 😱 Sementara Rian dan Ndolin lolos karena keberuntungan mereka.

Setelah insiden itu kami pulang ke rumah Resa lagi. Di perjalanan saya mengantuk karena kurang tidur akibatnya helm saya ‘menabrak’ helm Ndolin. Dia menanyai saya, “ngantuk, mbak?” Saya jawab “iya e”. Lha kenyataannya saya memang mengantuk. Sesampainya di rumah Resa, kamu mengistirahatkan badan dan membersihkan diri.

Rencana jam 15.00 WIB kami pulang ke Jogja tapi karena hujan kami jadi mengundurnya. Setelah itu saya yang tidak bisa menahan kantuk tidur dengan posisi duduk, belum “sakleran” saya dibangunkan Rian untuk mengubah posisi tidur saya menjadi berbaring. Dia memberikan tasnya sebagai bantal dan melemparkan selimut Ein pada saya. Akhirnya saya tidur juga. Legaaa. Saya bangun sekitar jam 16.00 WIB yang dilanjutkan dengan pembicaraan iuran dome dan bayar retribusi muncak. Saya yang masih kriyip-kriyip mengiyakan apa yang Rian katakan.

Setelah itu kami sholat Ashar, kami berpamitan dengan ibunya Resa dan melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Rute jalan yang kami tempuh sama dengan yang kami lalui sewaktu berangkat. Kami berhenti di jalan untuk menunaikan sholat maghrib. Karena melalui jalan yang sama, saya meminta untuk menurunkan di rumah saja daripada bolak-balik ke kampus. Mereka mengantarkan kami sampai rumah. Saya berterima kasih dan mereka berpamitan pulang.

IMG_20160320_082010

You’re rock, guys! 👍

Wow. Ini merupakan pengalaman yang luar biasa untuk saya. Terima kasih teman-teman. Saya semakin sayang dengan kalian xD Ayo, kita ‘bersama-sama’ terus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s