Terima kasih yang pertama

Kepada siapa lagi kata itu harus tersampaikan selain pada ibu yang telah berjuang bertaruh nyawa untuk membawa seorang bayi ke dunia. Dunia asing yang baru akan dikenalnya.

Terima kasih, bu. Untuk setiap bangun malam yang kau lakukan sewaktu saya bayi karena lapar. Tak jarang karena rewel butuh nyanyian atau sekedar pelukan. Tingkah manja yang biasa bayi lakukan. Mengajari dengan sabar ketika saya mulai ingin segera berlari dan mengejar teman-teman. Untuk setiap potong kain baju yang ibu belikan setiap lebaran, meski hanya cukup selama beberapa bulan karena pertumbuhan bayi kecil ibu yang pesat beraturan.

Terima kasih, bu. Sudah bersedia menunggu dengan sabar ketika putri kecilmu ini pulang. Membukakan pintu di larut malam meski kadang tak jarang membuat bapak jadi berang. Lalu saya hanya bisa mengkambinghitamkan tugas-tugas yang meminta dijamah dan harus segera dikumpulkan. Ibu tak marah, malah meminta untuk segera cuci kaki dan muka kemudian segera berlabuh di pulau kapuk impian.

Terima kasih, bu. Untuk sarapan pagi dan semua makanan yang selalu engkau sediakan. Meski kadang hanya nasi, sayur bayam, dan lauk tempe goreng. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Sudah terasa nikmatnya. Sudah cukup untuk membuat saya bersyukur karena memilikimu dan bersyukur bahwa tak semua orang dapat hidup seperti saya. Bisa makan enak dan punya ibu yang luar biasa.

Terima kasih, bu. Untuk selalu tersenyum dalam menghadapi tingkah polah anak-anakmu. Tahukah kau, bu? Senyum dan tawamu yang paling candu. Yang selalu menjadi alasan mengapa saya selalu rindu rumah dan ingin segera pulang. Yang menjadi penyemangat ketika tanah rantau sedang tak bersahabat.

Terima kasih, bu. Untuk setiap doa dan wejangan yang diberikan. Dari sewaktu remaja hingga sedewasa sekarang. Tentang bagaimana menjadi wanita seutuhnya. Bagaimana mengabdi pada keluarga. Menjadi bahagia meski menderita. Membagi tanpa harus pilih kasih. Mencinta tanpa perlu bersuara. Saya akan selalu mengingatnya.

Terima kasih, bu. Untuk semuanya. Untuk semua kasih sayang yang telah kau berikan dari dulu hingga sekarang. Saya akui tak akan pernah bisa membalasnya. Hanya untaian kata dalam doa di setiap malam yang mampu saya panjatkan. Semoga ibu senantiasa sehat dan bahagia. Sampai nanti, ketika uban putih memenuhi kepala. Sampai nanti, ibu dapat bermain dengan cucu-cucu yang datang dari luar kota. Sampai nanti, ketika napas tak bisa lagi berhembus di dunia.

Sekali lagi, terima kasih, bu, untuk semua cinta yang tak pernah ada expired date-nya.

Jogja, 17/04/2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s