Kamu, yang Bukan Punya Saya dan Entah Akan Menjadi Kepunyaan Siapa

abang

“Dear heart, why him?”

Hai.

Kamu.

Saya tahu tentang kamu ketika saya memutuskan untuk membuat akun media sosial instagram. Waktu itu saya iseng mencari #dokterganteng #doktertampan dsb. di halaman search dan discovery akun instagram saya. Ah, kenangan ini membuat saya merasa merasa menjadi orang ternorak sejagad raya ini.

Lalu saya menemukan akunmu. Saya men-scroll hingga postingan terakhirmu. Tanpa saya sadari, saya terbius dengan penampilan fisikmu yang menurut saya luar biasa. Putih, tinggi, rupawan, jago main futsal, supel, sayang keluarga, rajin ibadah, calon dokter pula. Potret idaman lelaki, batin saya. Saya putuskan untuk mem-follow akunmu.

Saya mulai menjelajah semua postinganmu. Membaca setiap komentar yang temanmu berikan dan mencerna setiap balasan yang kamu berikan terhadap komentar dari teman-temanmu.

Lucu, batin saya tersenyum.

Saban hari saya menunggu update-an foto darimu. Sampai saya gemas sendiri karena selama dua minggu lebih kamu tidak mengunggah satu fotopun.

Senyum saya terkembang begitu membuka instagram dan menemukan wajahmu di urutan pertama timeline saya. Hal sesederhana itu dapat membuat hati saya bungah. Sebegitu besarnya kah pengaruh kamu terhadap saya?

“Kalau ditanya aku menyukaimu atau tidak? Jawabannya jelas iya. Aku benar-benar-benar-benar-benar-benar menyukaimu, setiap hari meyukaimu.” -Sweet Escape.

Sampai saat menuliskan ini, saya masih berharap dan berkhayal tentang kamu dalam benak saya. Kamu telah masuk ke dalam list man-most-wanted saya. Menghidupi imajinasi saya sampai setinggi langit. Namun kamu juga yang dapat menghancurkan kepingan khayalan itu. Saya sangat menyadari hal itu.

Saya yang tidak berani menyapa kamu meskipun hanya lewat komentar di fotomu. Tidak seperti fans-fansmu yang selalu berkata “follback, ya, bang”. Tidak, saya tidak seberani itu. Saya cuma berani untuk memberi tanda hati di setiap postingan fotomu dan berharap kamu melihat saya walaupun kecil kemungkinannya.

Saya bahkan memilki ID Line dan pin BBMmu. Itu semua saya peroleh dari aktivitas stalking yang berlebihan pada akunmu. Saya luar biasa bukan? Saya rasa saya bisa membantu FBI setelah mengetahui kemampuan saya untuk mengorek informasi mengenai seseorang. Namun apalah daya, saya tetap tidak berani meng-add akunmu. Saya terlalu takut jika kamu mengetahui saya. Kamu boleh bilang saya pengecut, itu terserah kamu. Saya tidak membela diri, toh, memang  begitu adanya.

Saya pengecut.

Bibir saya tertarik, senyum simpul saya terkembang.

Saya bahkan sampai membuka akun mantan pacarmu semasa SMA. Saya minder. Betapa cantik dan luar biasanya ia. Pintar. Sama sepertimu, ia juga seorang calon dokter. Apalah saya ini yang hanya mahasiswi yang menyangka dirinya salah jurusan dan mungkin akan berakhir sebagai Guru SMA.

Pernah, saya memimpikanmu. Hal itu begitu membahagiakan saya padahal itu hanyalah bunga tidur. Hanyalah mimpi yang terjadi karena saya overdosis memikirkan kamu. Seingat saya, kamu menolak saya dalam mimpi itu meskipun secara halus. Itu membuat nyali saya semakin ciut untuk berinteraksi denganmu.

Pernah juga, saya berkhayal kamu datang ke Jogja untuk liburan. Kita tak sengaja bertemu di alun-alun selatan Keraton Yogyakarta sewaktu saya berjualan bunga mawar. (Jualan bunga mawar untuk menggalang dana untuk acara dies natalis jurusan saya). Kamu membeli bunga dan memberikannya pada saya dan berkata “bunganya yang saya kasih jangan dijual lagi, ya, mbak” seolah tahu bunga itu akan saya jual kembali untuk mendapatkan dana. Teman-teman kamu bersorak dan saya tersipu. Apa yang harus saya lakukan dengan khayalan tingkat tinggi ini? Sepertinya otak saya mulai oleng.

Sepertinya pikiran saya memang sedang tidak berada pada tempat yang seharusnya. Saya terlalu banyak memasukkan kamu ke dalamnya hingga asa saya terlalu membuncah dan saya tak mampu menghalaunya.

Kamu nun jauh di ujung barat sedangkan saya berada di pusat negeri ini. Kita terpisah pulau, beribu-ribu kilometer. Namun saya tak keberatan jika suatu saat nanti kita memang harus bertemu. Toh, kita tak pernah tahu bagaimana takdir Allah bekerja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s