Dear My Man

Teruntuk kamu, yang belum saya tahu keberadaannya.
Halo.
Kamu, lelaki milik saya.
Ah, saya merasa aneh menyebutmu seperti itu karena kita belum bertemu.
Kita? Saya ingin tertawa ketika mengatakannya.
Sudahlah, abaikan saja ketidakjelasan ucapan saya barusan.

Saya cuma mau bilang, kamu telah berhasil memporak-porandakan hati saya. Kamu telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan saya, yang telah saya bangun bertahun-tahun guna membentengi diri dari laki-laki yang berniat mempermainkan saya. Selamat!

Kamu tahu, saya memang mudah jatuh cinta, tapi saya tidak mudah menyerahkan hati saya kepada siapa saja. Hati saya cuma satu dan itu khusus saya persembahkan untuk yang berhak menerima. Dan ternyata kamu yang saya rasa pantas menerimanya. Sekali lagi, selamat! Saya harap kamu dapat menjaganya dengan baik. Begitu pula dengan saya yang berharap dapat menjaga hatimu dengan sebaik-baiknya.

Ada hal-hal yang ingin saya katakan kepadamu, lelaki masa depan saya. Saya memiliki beberapa kelebihan namun juga memiliki banyak kekurangan. Sama sepertimu bukan? Seperti manusia yang lain juga. Namun saya harap kamu tidak keberatan dan bisa memakluminya. Begitu pula dengan saya yang akan berusaha memahami kelebihan dan kekuranganmu.

Saya harap kamu bisa memaklumi sikap kekanak-kanakan saya yang kadang saya tunjukkan ketika melihat sesuatu milik saya berada di tangan orang lain tanpa izin saya. Sikap moody saya yang dapat menghancurkan satu harimu karena saya tidak akan berbicara apapun padamu, tolong nasihati saya dengan kesabaranmu karena hal itu. Dan tolong saling mengingatkan untuk sholat tepat pada waktunya. Bukan karena saya lupa, itu termasuk dalam kekurangan saya yang lainnya, suka menunda pekerjaan.

Saya kurang terbiasa bangun pagi. Entah kenapa semenjak SMA saya sepertinya memiliki hobi baru, tidur. Bisa saja setelah sholat subuh saya tertidur lagi. Saya menyadari itu perilaku yang buruk tapi seakan sudah menjadi kebiasaan saya. Tolong tegur saya karena hal itu. Saya akan berusaha memperbaikinya. Semoga saja tidak memakan waktu lama.

Saya bisa memasak tapi tidak selihai ibumu. Jadi maafkanlah jika masakan saya terasa asin, asam, terlalu pedas, dan rasa-rasa ajaib lainnya. Sumpah, saya tidak berniat untuk meracunimu. Kecuali kalau kamu selingkuh dari saya, bisa saja hal itu terjadi. Hehe, saya hanya bercanda. Namun saya tidak akan keberatan untuk bertanya pada ibumu dan belajar membuat makanan kesukaanmu.

Saya tidak akan membebanimu dengan selalu makan di tempat hits dan mewah karena saya tahu budget untuk ke sana tidaklah murah. Saya tidak keberatan diajak makan di pinggir jalan karena saya pun sudah terbiasa melakukannya semenjak sekolah dan sebelum bertemu dengan kamu. Lebih akrab dan kenyang kalau menurut saya, hehe. Sedikit cerita, saya pernah bilang ke teman kuliah saya, “milih makan di kafe terkenal tapi sendiri atau di angkringan tapi rame-rame?”. Absolutely saya memilih di angkringan rame-rame. Why? Saya suka bersama orang-orang yang saya sayangi walaupun dengan cara yang sederhana. Begitu pula dengan kamu. Saya tidak mau memburu gengsi jika kita memang tidak mampu. Toh, hubungan kita ini sudah tidak boleh mengenal gengsi. Mau makan gengsi atau makan nasi? Sebelum kamu menjawab akan saya jawab duluan. Saya pilih opsi kedua.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin meminta izinmu dulu. Izin untuk memiliki pekerjaan. Kadang saya bosan di rumah. Di rumah akan membuat saya stres dan gendut. Saya tidak suka itu. Lagi pula, bapak dan ibu saya menyekolahkan saya hingga jenjang strata, rasanya sayang kalau ijazah itu tidak terpakai. Saya akan berusaha membagi waktu saya dengan baik antara karier, kamu, dan keluarga kita. Namun, apabila kamu merasa saya tidak bisa membagi waktu saya dengan baik, kamu berhak meminta saya untuk berhenti dari pekerjaan tersebut. Saya akan berlapang dada menuruti keinginanmu dan menerimanya. Saya yakin, kamu tahu yang terbaik untuk saya dan kita.

Saya bisa menyiapkan teh hangat atau kopi favoritmu di kala pagi atau petang hari sembari kita berceloteh ria. Membahas pekerjaanmu, pekerjaan saya, atau sekedar bergurau di teras rumah karena melihat senyum dan tawamu adalah candu bagi saya. Selain itu, saya bisa menyiapkan baju kerjamu agar selalu rapi. Menyambutmu pulang kerja atau melakukan hal-hal asik yang menjadi hobimu atau hobi saya di akhir pekan. Menikmati kehidupan dalam kesederhanaan yang kamu tawarkan. Saya akan menerima dan berusaha yang terbaik untuk kamu dan keluarga kita.

Saya tidak mau mengekang kamu. Kamu bebas melakukan apapun. Saya yakin kamu lelaki dewasa yang mampu membedakan baik dan buruk untuk hidupmu. Tapi bisakah kamu memberi kabar pada saya? Tolong jangan membuat saya khawatir. Jangan membuat saya seperti orang bodoh yang menunggu kabar dari kamu seharian.

Saya tahu kamu sudah berjuang banyak untuk saya. Itu lebih dari cukup. Sekarang saya juga sedang berusaha memperbaiki diri saya. Jadi ketika kita bertemu, saya sudah masuk dalam kualifikasimu dan tanpa waktu yang lama kita bisa bersatu.
Sepertinya ini dulu yang mampu saya sampaikan untukmu.
Semoga kamu tidak kecewa dengan saya.
Saya percaya kamu adalah orang baik yang dikirim Allah untuk menyempurnakan ibadah saya.
Sampai bertemu suatu hari nanti, imamku.

Yang masih berusaha memenuhi kualifikasimu,
Saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s