Teruntuk Ifa

Hai, Fa.

Saya menulis ini khusus untukmu. Kamu yang dengan sabarnya menemani di kala saya senang maupun suntuk. Kamu yang menemani di saat saya memulai masa menjadi dewasa. Yang selalu ada dalam setiap saya rapuh dan terluka.

Fa,

banyak sekali yang ingin saya sampaikan. Lewat tulisan ini semoga dapat menyuarakan apa yang tak bisa terucap lewat bibir saat kita bercengkrama.

Tolong dimaafkan, Fa.

Untuk setiap kata-kata yang kadang tak mudah diterima oleh telinga. Untuk setiap kalimat yang tak jarang membuat luka. Dan untuk setiap sikap yang membuat kecewa.

Tak jarang ketika kamu bercerita, saya akan menyela. Mengabaikan ceritamu dan beralih cerita yang lain, tentang gosip terbaru misalnya. Saya yang tak peka dengan keadaanmu di saat kamu terluka karena masalah di rumah atau karena murka adikmu yang tak bisa diterima logika.

Saya yang tak acuh. Padahal kamu telah lama menunggu. Sewaktu saya bilang kita akan belajar bersama. Kamu tetap menunjukkan senyum dan gigi rapimu ketika saya datang menghampiri. Dengan tanpa bersalah saya duduk di sampingmu, menyalakan laptop, dan mencomot cemilanmu. Sungguh tak tahu malu. Tapi kamu memakluminya.

Terima kasih, Fa.

Untuk semua yang telah kamu korbankan. Untuk setiap canda dan tawa yang terurai di setiap perjalanan. Untuk hari-hari ceria yang telah kita lewati bersama. Semoga hal-hal kecil yang tercipta juga membuatmu bahagia.

Tetaplah tersenyum, Fa.

Jalan hidup kita masih panjang. Meski banyak aral melintang, saya yakin jika kita mampu berjuang. Jangan banyak mengeluh. Lemparkan saja jangkarmu jauh dan yakin suatu saat nanti kita pasti berlabuh.

Ingatkah kau, di saat akhir-akhir kita menempuh bangku kuliah? Saat kita sudah terlalu jengah dan lelah. Kamu bilang, “sudahlah, sepertinya memang lebih baik menikah.”

Kita tertawa, sebab kita tahu kenyataannya. Jika kita benar-benar melakukannya, itu tak akan mengurangi masalah tetapi malah menambah.

Tetaplah kuat, Fa.

Saya yakin dan percaya, pangeranmu suatu saat nanti akan datang menjemput setelah jauh mengembara. Menawarkan sebuah bahagia. Dan itu pasti yang kamu minta pada yang Kuasa.

Jika nanti masing-masing dari kita sudah berkeluarga, pasti akan sangat menyenangkan berbagi cerita denganmu tentang anak-anak kita dan bahkan kita bisa menjodohkannya. Bukankah itu menyenangkan, Fa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s