KKN, Kisah Kasih Nyata, A127 #1

Hai. Kita kembali bersua lewat tulisan ini. Kali ini saya ingin menceritakan kisah kasih selama saya menjalani KKN, Kuliah Kerja Nyata, sebagai salah satu syarat untuk dapat disebut sebagai mahasiswa semester tua. Haha. Ya nggak, lah. Kegiatan ini adalah salah satu matakuliah yang wajib diambil agar dapat meneruskan studi dan lulus dari perguruan tinggi.

KKN semester khusus diadakan pada bulan Juli dan Agustus 2017. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua kelompok, A dan B. Alhamdulillah, saya kebagian kelompok A yang diterjunkan pada tanggal 11 Juli 2017 dan berakhir 9 Agustus 2017. Kelompok B diterjunkan bulan Agustus, setelah penarikan kelompok A.

Lokasi KKN saya berada di Desa Jatirejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Lokasi tersebut dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari kampus. Lumayan jauh, kan? Lumayan bikin bokong panas juga sewaktu naik motor. Ditambah lagi kalau pulang dan perginya naik motor sendirian, tambah ngenes, kan? Wkwk.

IMG_20170809_100143

Sebelumnya, saya mau cerita dulu tentang kelompok KKN saya, Kelompok KKN A127. Terdiri dari Ikhsan (Pendidikan Kriya), Fendi (Pendidikan Bahasa Jerman), Widya (PGSD), Ketfi (PLS), Nadiyya (BK), Saya, Nisa (Pendidikan Kriya), Vita (Sastra Inggris), Fariza (Pendidikan Matematika), dan Arienal (Ilmu Sejarah). Kesepuluh orang ini menamakan dirinya keluarga kuda laut. Kenapa? Alasannya aneh bin absurd. Ketfi, yang notabene adalah ketua kelompok (satu-satunya ketua kelompok yang berjenis kelamin wanita dari seluruh ketua kelompok KKN di Desa Jatirejo) mengarang cerita setelah mendapat ‘ilham’ ketika mengurutkan kami dari yang tertua. Ilhamnya adalah sebagai berikut, Ikhsan sebagai yang tertua mendapat sebutan bapak, Fendi jadi pakde, Widya menjad bude, Ketfi jadi tante, Nadiyya jadi Bibi, saya jadi aunty, Nisa jadi kakak besar, Vita jadi kakak kecil, Fariza jadi adik besar, dan Arienal jadi adik kecil. Ibunya diceritakan menjadi TKI di Malaysia yang kemudian diangkat menjadi majikan di sana dan tidak pernah pulang lagi ke Indonesia. Jadilah hanya si bapak yang mengurus keluarganya. Karena hanya bapak yang berperan di sini, maka saya memiliki ide untuk menamakan keluarga kecil ini dengan nama kuda laut. Alasannya sederhana karena hewan kuda laut lahir dari bapaknya, bukan dari ibu. Mula-mula memang anak-anak kuda laut berada dalam kandungan ibu, tetapi ketika sudah waktunya, anak-anak kuda laut itu akan ditransfer ke bapaknya dan dilahirkan oleh bapaknya. Jadi si ibu hanya berperan dalam mengandung. Itupun hanya sebentar. Ah, filosofi yang nggak jelas sama sekali. Haha.

Sebelum tercipta sebutan keluarga kuda laut, Ketfi juga membuat panggilan “aneh” untuk kami. Bermula dari pertanyaannya mengenai, “besok kalau udah punya anak, kalian mau dipanggil apa?” lalu si Ketfi menjadikan kami berpasang-pasangan, tapi yang paling viral adalah Fendi-Nisa. Selain itu ada Fariza-Widya dan Arienal-Vita. Ketfi dan Nadiyya nggak ikutan karena berdalih tidak jomblo. Mulanya saya dipasangkan dengan Ikhsan, tapi nggak jadi karena Ikhsan sudah punya pacar. Alhamdulillah, saya selamat dari pairing-an yang nggak mutu ini xD dan hingga sekarang pairing-an ini masih berlaku meskipun keluarga kuda laut sudah tercipta wkwk. Buat seru-seruan aja, sih.

Saya merasa beruntung sekali bisa dikumpulkan dengan A127. Di dalam kelompok ini saya nggak perlu jaga image. Saya nggak perlu takut ketika ucapan saya akan menyakiti orang lain karena mulut merekapun sama saja seperti saya, ceplas-ceplos, sak penak e dewe. Dulu saya kira akan membosankan dan nggak akan nyambung dengan yang lain, tapi dugaan saya salah. Bersama mereka saya menemukan “keluarga” yang lain, selain keluarga di rumah, selain Okta-Rian-Aza, selain cimi unyu club, selain Pendidikan Biologi A 2014, dan selainnya hehehe. Saya bisa membagi keluh kesah tanpa takut dihujat ataupun dihina. Dihujatpun pasti tetap tertawa. Alhamdulillah, kami bersepuluh bisa melebur menjadi satu, memahami satu sama lain, dan berjuang bersama menghadapi warga Desa Jatirejo.

Nggak mudah bagi saya untuk segera dekat dengan orang, apa lagi hanya dalam waktu satu bulan. Mungkin di pandangan orang lain saya cepat akrab dengan orang lain, padahal aslinya yang saya lakukan hanyalah haha-hehe atau sekedar say hi. Saya bukan orang yang easy going, lebih cenderung ke introvert, dan sedikit takut jika menjadi pusat perhatian. Namun bersama mereka saya bisa langsung bercerita banyak. Layaknya dengan Okta dan Rian yang sudah beberapa tahun menemani saya. Saya akui mereka benar-benar teman baru yang menyenangkan.

Program kerja yang saya buat di sana adalah budidaya sayur sehat dengan kegiatan utamanya adalah menanam caisin/sawi hijau. Bersama ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani) Dewi Sri, saya mendapatkan banyak ilmu. Kebaikan mereka tidak dapat saya balas dengan apapun. Hanya ucapan terima kasih yang dapat saya sampaikan. Setiap selesai kegiatan seringkali saya dibawakan cemilan/snack, pernah juga dibawakan pete, yang disambut meriah oleh teman-teman di posko KKN. Ibu-ibu KWT seakan menjadi kekuatan bagi saya, menambah semangat untuk menjalani hari-hari di Desa Jatirejo. Bahkan setelah KKN berakhir, mereka masih memberikan kami buah tangan yang tak dapat kami balas dengan apapun.

Adik-adik kecil di Desa Jatirejo juga luar biasa baiknya. Mereka kerap sekali datang ke posko dengan salam andalannya, “siji, loro, telu, assalamualaikuuummm…” kemudian tertawa ramai-ramai. Mereka yang meramaikan posko kami yang berada di rumah Mbah Sumpeno. Adik-adik kecil yang melancarkan program kegiatan yang kami rencanakan. Tak ada yang bisa kami ucapkan selain terima kasih. Terima kasih untuk semuanya. Yang selalu berkata pada saya, “Ih, Mbak Apin kalau nggak pakai kacamata lucu banget”, atau “Mbak Apin lucu banget kalau kerudungnya dilepas. Imut banget,”, atau “Mbak Apin ketawanya tuh lucu banget.”. Yang selalu bergelayut manja di lengan sampai kadang membuat kesal. Yang selalu mengirimi chat untuk mengungkapkan kalimat-kalimat rindu yang menggebu. Terima kasih, dik 🙂

Kembali ke kelompok A127, kelompok paling aneh tapi sangat menyenangkan buat saya. Kelompok yang kalau melaksanakan proker nggak pernah mau pakai jas almamater, kecuali kalau ke SD. Kelompok yang senang sekali kalau ketemu dedek-dedek PAUD Permata Hati. Kelompok yang punya perpustakaan kecil di posko. Kelompok yang masak sendiri. Kelompok yang kalau kerjaannya di dapur malah karaoke-an. Dapur adalah markas besar kami wkwk. Kelompok yang seneng banget kalau Fendi “dibully”. Apa lagi kalau menyanyikan lagu hadroh Turi Putih. Kelompok yang nyiak gitarnya Ojan, kelompok A126. Kelompok yang kalau selo malah pergi mancing. Kelompok yang isinya orang-orang yang absurd-nya nggak ketulungan tapi solidnya pol-polan ❤

Di A127, saya tergabung dalam Squad Mandi Subuh bersama duo alay, Widya dan Vita. Kami bertiga adalah orang yang pertama kali bangun di jam 4 pagi lalu mandi di saat semua anggota masih terlelap. Biasanya saya yang pertama kali mandi, kemudian Widya, lalu Vita. Di antara mereka, saya yang mandi paling cepat. Widya dan Vita membutuhkan waktu 30 menit-an untuk mandi sementara saya hanya 10 menitan -,-. Jangan tanyakan bagaimana suhunya. Brrr. Awal-awal di sana saya menggigil setelah mandi, tapi kemudian terbiasa. Setelah saya mandi biasanya saya mencuci pakaian. Setelah itu langsung ke dapur, menemani Mbah Putri memasak air dan mengisi air putih ke dalam botol-botol air mineral untuk menemani sarapan. Sembari menunggu air mendidih, saya biasanya mengupas bawang merah dan bawang putih, menaruhnya ke dalam mangkok untuk persiapan memasak nanti. Tak lama kemudian pasti Widya dan Vita menyusul ke dapur. Lalu Ketfi, si bos Dapur, yang bertanggung jawab atas makanan kami. Di dapur simbah, masakan ala-ala kami tercipta. Sederhana tapi enak dan mantap jiwa wkwk. Diselingi dengan guyonan waton dan curhat serta gosip-gosip yang meramaikan suasana.

Setelah masakan hampir matang, saya akan ke meja makan dan membersihkannya. Merapikan meja makan yang berantakan karena toples ‘sajen’ rokok milik lelaki, buku-buku yang dibaca simbah, gelas dan piring sisa makan malam, dan terkadang penggaris dan pensil yang digunakan semalam. Menata kursi agar rapi, menyapu lantai, dan merapikan jejeran sandal dan sepatu yang berserakan di depan pintu. Masuk ke dalam ruang tidur, saya akan menyapu lantai, dan sedikit menggerutu karena kabel charger hp atau laptop yang tak terurus. Lalu saya akan mengambil rafia dan merapikannya satu per satu dan menaruhnya di atas meja. Mau marah tapi kok ya cuma hal sepele, tapi kalau nggak marah kok ya tiap hari berantakannya. Akhirnya saya cuma bisa diam. Sudah lah nggak apa-apa. Dinikmati aja.

Siang hari hingga sore hari kami akan melaksanakan proker kami masing-masing. Lalu pada malam harinya kami akan bercengkrama di meja makan sembari bertukar cerita. Bercanda  dan bernyanyi-nyanyi nggak jelas adalah salah satu hal yang saya suka. Mereka selalu bisa membuat saya tertawa. Saking seringnya saya tertawa, mereka sampai menobatkan saya jadi Duta Ketawa -_-.

Menceritakan kelompok A127 tidak akan pernah ada habisnya. Apalagi kalau bercerita kelakuan anggotanya di grup chat setelah KKN berakhir, mereka semua jadi “menggila”. Berhubung saya sudah capai mengetik ini semua, maka akan saya akhiri sampai di sini dulu. Kalau misal ada mood untuk menulis lagi, pasti akan segera saya realisasi. Haha. See you

Saya tidak pintar berpuisi. Saya tidak pandai bersastra. Saya hanya suka menulis. Menuliskan hal-hal yang saya suka. Dan kalian… termasuk di dalamnya.

Advertisements

21th

Hello, angka bioskop. Akhirnya saya sampai juga kepadamu. Hari ini.

Bahagia… tapi juga berduka. Sebab di hari ini saya jadi tahu siapa saja yang peduli. Hanya beberapa. Sisanya hanya ikut ber-euphoria. Tak mengapa, setidaknya mereka ikut tertawa.

Tadi pagi, sebelum adik laki-laki saya berangkat sekolah, ia memberikan saya sebuah mug, terbungkus plastik bening. Di sana terpampang gambar sketsa wajah saya dan tulisan “HAPPY BIRTHDAY”. Saya merasa sangat bahagia. Sebegitunya ia peduli. Terima kasih, Dik kecil.

Lalu saya ke kampus, tak ada yang berbeda. Semuanya seperti biasa. Lantas kamu mau berharap apa? Batin saya mencerca. Ucapan selamat sudah diterima, tapi entah mengapa saya merasa hampa. Bukan karena tak mendapat bingkisan atau apa tapi saya hanya merasa, “oh ternyata begini rasanya…”.

Ucapan yang hanya lewat bibir dan lewat ketikan jemari tangan terasa tak ada artinya. Tapi tetap saya balas dengan senyum dan berharap doa-doa baik tersebut kembali pada pemiliknya. Sebab bukankah begitu adanya? Biarlah Yang Maha Kuasa yang membalas kebaikan mereka.

Semakin dewasa, maka semakin terbatas orang-orang yang dapat dipercaya. Mungkin ini pemikiran yang sangat sempit dan menghimpit. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana untuk mengubahnya. Pikiran saya telah tersudutkan dengan stereotip tersebut.

Padahal di hari ini saya berharap bisa bahagia. Sebenar-benarnya bahagia. Tapi ternyata tidak bisa. Senyum dan tawa hanyalah fiktif belaka. Memang hari ini hanyalah hari biasa. Namun buat saya itu istimewa. Umur saya bertambah satu. Saya bertambah tua yang harapannya semakin dewasa. Tak lagi menduga-duga. Tak lagi terlalu suka bercanda. Ah, entahlah.

Dibilang kecewa, ya mungkin memang begitu adanya. Sudahlah. Memikirkannya menguras banyak tenaga. Lebih baik bersyukur saja. Setidaknya masih ada orang yang peduli. Masih ada yang mengingat jika hari ini ada seorang manusia yang bertambah usianya. Dan Tuhan masih berbaik hati memberikan napas yang panjang untuk melewati hari ini.

Alhamdulillah.

Now, you’re 21th, girl. Barakallah. Let’s be better from yesterday.

Cinta Monyetku, apa kabarmu?

Meski kita sudah lama berlalu, tapi saya masih ingin bertanya tentang ini padamu. Bukan karena merindu, saya hanya ingin tahu.

Iya, saya masih mengingatmu. Saya harap kamu pun begitu.

Tak terasa sudah enam tahun lebih kita tak bersua. Kabar beritamu pun tak pernah sampai di telinga.

Halo, kamu sedang apa?

Masih sibukkah dengan aktivitas memetik gitar kesayanganmu? Ataukah sibuk membuat lagu baru? Semoga apapun yang kamu lakukan Tuhan selalu bersamamu.

Kamu pernah mengisi hari-hari saya. Menyebabkan rona merah di wajah ketika bertegur sapa. Membuat rindu ketika akhir pekan membatasi temu.

Melihatmu dari jauh itu pun sudah cukup karena saya sadar betul rasa ini tak bersambut. Terlebih ketika teman sebangku menyatakan ia juga menyukaimu. Saya kalut.

Jika saya maju, mungkin saja saya dan kamu bisa menjadi kita. Rasa suka saya akan jadi nyata dan jadi cinta monyet atau mungkin gorila. Namun saya masih terlalu naif waktu itu. Teman sebangku saya anggap nomor satu.

Setahun berlalu, sudah waktunya kamu untuk pergi. Menyisakan kenangan pertunjukkanmu bermain gitar. Saya terpana waktu itu. Setelah itu saya dapat kontakmu dan beberapa kali kita bertukar pesan. Meski kamu tak tahu jika itu adalah saya, tak mengapa. Balasan pesanmu selalu membuat saya bahagia.

Beberapa hari yang lalu, saya dengar kabar jika kamu akan menikah. Wah! Selamat! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Diberikan putra-putri yang lucu, imut, menggemaskan. Saya di sini ikut menyumbang senyum bahagia. Dan semoga-semoga yang baik selalu tertuju pada kalian.

Saya cuma mau bilang, terima kasih. Sudah pernah mewarnai hari-hari saya. Mengusik rasa penasaran dalam diri saya ketika beranjak remaja. Semoga kamu selalu berbahagia.

Jogja, 3/5/2017