21th

Hello, angka bioskop. Akhirnya saya sampai juga kepadamu. Hari ini.

Bahagia… tapi juga berduka. Sebab di hari ini saya jadi tahu siapa saja yang peduli. Hanya beberapa. Sisanya hanya ikut ber-euphoria. Tak mengapa, setidaknya mereka ikut tertawa.

Tadi pagi, sebelum adik laki-laki saya berangkat sekolah, ia memberikan saya sebuah mug, terbungkus plastik bening. Di sana terpampang gambar sketsa wajah saya dan tulisan “HAPPY BIRTHDAY”. Saya merasa sangat bahagia. Sebegitunya ia peduli. Terima kasih, Dik kecil.

Lalu saya ke kampus, tak ada yang berbeda. Semuanya seperti biasa. Lantas kamu mau berharap apa? Batin saya mencerca. Ucapan selamat sudah diterima, tapi entah mengapa saya merasa hampa. Bukan karena tak mendapat bingkisan atau apa tapi saya hanya merasa, “oh ternyata begini rasanya…”.

Ucapan yang hanya lewat bibir dan lewat ketikan jemari tangan terasa tak ada artinya. Tapi tetap saya balas dengan senyum dan berharap doa-doa baik tersebut kembali pada pemiliknya. Sebab bukankah begitu adanya? Biarlah Yang Maha Kuasa yang membalas kebaikan mereka.

Semakin dewasa, maka semakin terbatas orang-orang yang dapat dipercaya. Mungkin ini pemikiran yang sangat sempit dan menghimpit. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana untuk mengubahnya. Pikiran saya telah tersudutkan dengan stereotip tersebut.

Padahal di hari ini saya berharap bisa bahagia. Sebenar-benarnya bahagia. Tapi ternyata tidak bisa. Senyum dan tawa hanyalah fiktif belaka. Memang hari ini hanyalah hari biasa. Namun buat saya itu istimewa. Umur saya bertambah satu. Saya bertambah tua yang harapannya semakin dewasa. Tak lagi menduga-duga. Tak lagi terlalu suka bercanda. Ah, entahlah.

Dibilang kecewa, ya mungkin memang begitu adanya. Sudahlah. Memikirkannya menguras banyak tenaga. Lebih baik bersyukur saja. Setidaknya masih ada orang yang peduli. Masih ada yang mengingat jika hari ini ada seorang manusia yang bertambah usianya. Dan Tuhan masih berbaik hati memberikan napas yang panjang untuk melewati hari ini.

Alhamdulillah.

Now, you’re 21th, girl. Barakallah. Let’s be better from yesterday.

Cinta Monyetku, apa kabarmu?

Meski kita sudah lama berlalu, tapi saya masih ingin bertanya tentang ini padamu. Bukan karena merindu, saya hanya ingin tahu.

Iya, saya masih mengingatmu. Saya harap kamu pun begitu.

Tak terasa sudah enam tahun lebih kita tak bersua. Kabar beritamu pun tak pernah sampai di telinga.

Halo, kamu sedang apa?

Masih sibukkah dengan aktivitas memetik gitar kesayanganmu? Ataukah sibuk membuat lagu baru? Semoga apapun yang kamu lakukan Tuhan selalu bersamamu.

Kamu pernah mengisi hari-hari saya. Menyebabkan rona merah di wajah ketika bertegur sapa. Membuat rindu ketika akhir pekan membatasi temu.

Melihatmu dari jauh itu pun sudah cukup karena saya sadar betul rasa ini tak bersambut. Terlebih ketika teman sebangku menyatakan ia juga menyukaimu. Saya kalut.

Jika saya maju, mungkin saja saya dan kamu bisa menjadi kita. Rasa suka saya akan jadi nyata dan jadi cinta monyet atau mungkin gorila. Namun saya masih terlalu naif waktu itu. Teman sebangku saya anggap nomor satu.

Setahun berlalu, sudah waktunya kamu untuk pergi. Menyisakan kenangan pertunjukkanmu bermain gitar. Saya terpana waktu itu. Setelah itu saya dapat kontakmu dan beberapa kali kita bertukar pesan. Meski kamu tak tahu jika itu adalah saya, tak mengapa. Balasan pesanmu selalu membuat saya bahagia.

Beberapa hari yang lalu, saya dengar kabar jika kamu akan menikah. Wah! Selamat! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Diberikan putra-putri yang lucu, imut, menggemaskan. Saya di sini ikut menyumbang senyum bahagia. Dan semoga-semoga yang baik selalu tertuju pada kalian.

Saya cuma mau bilang, terima kasih. Sudah pernah mewarnai hari-hari saya. Mengusik rasa penasaran dalam diri saya ketika beranjak remaja. Semoga kamu selalu berbahagia.

Jogja, 3/5/2017

Terima Kasih yang Kedua

Untuk lelaki yang menjadi cinta pertamaku: Bapak.

Terima kasih, Pak, untuk malam-malam pertama saat menemani ibu sewaktu saya hadir di dunia. Saya tahu, itu sangat merepotkan. Mengurangi waktu istirahat padahal saya yakin waktu itu bapak juga merasa penat. Tapi bapak selalu tersenyum ketika menggendong kemudian meninabobokan saya.

Lalu ketika ibu harus menjalani prajabatan di kota, bapak mengurus saya seorang diri. Jauh dari ibu pasti membuat bapak stress. Apalagi mengetahui jika anak perempuannya ini begitu menggilai susu bayinya, yang selama sebulan bisa menghabiskan lebih dari sepuluh kaleng susu. Terima kasih atas sabarmu, Pak.

Lalu terima kasih juga, Pak. Untuk setiap tetes keringatmu yang kau keluarkan demi menghidupi kami, anak dan istrimu. Yang menurut cerita ibu, bapak sampai pernah menjadi tukang bangunan untuk membelikan saya susu. Semoga Allah mencatatnya sebagai kebaikanmu, Pak. Sebegitunya perjuanganmu.

Pak, saya menangis ketika menulis ini. Putri kecilmu ini sangat cengeng, kan? Padahal engkau selalu memberi nasihat jika saya harus menjadi kuat. Menjadi panutan untuk adik kecil agar tak dianggap remeh oleh dunia. Tapi terkadang saya merasa tak mampu, Pak. Dunia terasa kejam bagi saya. Lalu seketika saya ingin kembali ke pelukanmu, berlindung di balik bahumu, dan menangis tersedu.

Terima kasih, Pak. Untuk selalu setia menjemput anakmu ketika pulang, baik di pelabuhan kapal maupun bandar udara. Meski melelahkan, tapi engkau dengan sabar menunggu anak-anakmu untuk keluar dari besi-besi besar yang mengapung  itu. Suatu hari nanti, saya yang akan begitu. Saya yang akan menjemput bapak di bandara ketika bapak datang berkunjung ke kota rantauan saya. Saya yang akan menjamin kehidupan layak untuk bapak sehingga bapak akan merasa nyaman. Seperti harapan-harapan yang pernah bapak curahkan.

Terima kasih, Pak. Telah memberikan pundakmu sebagai tempat bersandar terkuat sebelum saya menemukan si pangeran hati. Menjadi penahan di saat dunia terasa asing dan menyebalkan. Tempat berlindung dari ucapan orang yang menyesakkan dada. Selalu ada untuk mendengarkan jeritan hati, meski membosankan, meski diulang-ulang. Seolah-olah cerita dari putri kecilmu ini adalah sebuah kejutan. Selalu bertanya kabar padahal putrimu ini jarang menanyakan. Terima kasih, Pak. Sungguh engkau memang lelaki idaman.

Semoga suatu hari nanti saya bisa menemukan seorang pria yang tegarnya sepertimu. Yang tanggung jawabnya sepertimu. Yang selera humor tinggi dan lucu sepertimu. Yang rasa cinta keluarganya sebegitu besarnya sepertimu. Jika suatu hari nanti saya menemukannya, tetap bapak yang akan selalu menjadi rajanya. Lalu saya juga akan tetap menjadi putri kecilmu yang manja dan banyak bicara serta terampil bercerita. Semua tak akan mengubah apa-apa karena bapak akan selalu menjadi cinta pertama.

Jogja, 03/05/2017