Kamu yang pernah ingin singgah, tapi saya tolak mentah-mentah

Apa kabar? Sudah sembuhkah hatimu?

Atau masih seperti tertancap paku? Jujur, saya ingin tahu.

Malam ini saya memikirkanmu. Kamu yang  dulu tak sengaja mengenal saya di sebuah kios cemilan milik seorang teman. Yang selalu bilang saya autis karena terlalu asik dengan gawai kekinian. Kamu yang sebenarnya selalu membuat saya tertawa karena salah tingkah ketika digoda.

“kalau aku cinta dia, memangnya kenapa?” ucapmu ketika terpojok setelah digoda si teman. Saya mendengarnya dengan jelas. Sontak itu membuat saya tersipu. Saya pun menjadi bulan-bulanan si teman untuk digoda. Saya tidak suka. Ya, saya tahu apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Saya harus tegas kepadamu.

Maaf kamu bukan tipe saya. Setelah menyatakan itu, kemudian saya menghilang. Saya tak pernah lagi mampir ke kios cemilan itu. Saya pun memutuskan komunikasi dengan si teman. Meminimalisir peluang untuk bertemu dan tahu kabarmu. Iya, saya menghindari kamu. Sebegitu antinya saya terhadap kamu.

Lalu kamu tak pernah mengirimi pesan lagi. Tak pernah menanyakan kabar lagi. Kamu seolah pasrah dengan nasibmu itu.  Atau mungkin ego lelakimu yang menyuruh begitu. Sebab saya sudah menyakitimu lebih dari sekedar perih. Hingga membuat hatimu akhirnya mendidih.

Kamu pasti lebih tahu bahwa banyak perempuan di luar sana yang menantikanmu. Yang akan menyambut cerita dan candamu dengan tawa sumringah. Yang akan menghapus peluhmu karena lelah. Jadi kamu tak akan gelisah. Mungkin wanita itu bukan saya, si perempuan kecil yang tak punya hati. Mungkin setelah ini saya akan mendapat karma. Ya, saya akan menerimanya dengan ikhlas hati.

Lewat tulisan ini, saya ingin meminta maafmu. Ingin memupuskan segala rasa bersalah yang sudah sekian lama terpendam di hati. Meluruskan apa yang keliru. Agar nantinya semua bisa berjalan maju.

Jogja, 16/04/2017

Kenapa Menulis?

Saya nulis karena memang saya mau. Saya pengen banget nulis cerita saya sendiri. Mungkin cerita pasaran tapi versi saya sendiri. Dari jaman SD saya suka nulis diary, keterusan sampe SMP, dan mandeg saat SMA. Sayang uangnya kalo buat beli diary terus. Mending buat beli risol mayo, enak! Hahaha. Tapi kadang masih suka nulis puisi/prosa nggak jelas di laptop. Curhat juga sih intinya.

Gara-gara nulis juga saya jadi lebih tahu tentang diri saya sendiri. Ternyata saya orangnya melankolis. Sikit-sikit baper, terharu, seneng, ya gitu-gitulah. Namanya juga melankolis. Kebanyakan pakai hati. Ugh.

Nah, karena itu di sini ada beberapa tulisan. Termasuk yang gak jelas ini. Saya pengen belajar menulis. Biar yang saya tahu nggak cuma nulis laporan praktikum atau yang bentar lagi saya alami, yaitu skripsi. Nyebutin gitu aja berasa horor, ye? Haha.

Saya pengen tahu gimana, sih, rasanya jadi penulis novel terutama novel online. Ternyata susah, ya? Idenya suka timbul tenggelam. Nggak jarang karena kesibukan di dunia nyata, ceritanya jadi terbengkalai. Pantesan banyak cerita yang memakan waktu lama supaya selesai. Ada juga cerita yang nggak tamat. Kan bikin sedih. Huhu.

Iming-iming jadi novel cetak juga memacu semangat untuk menulis. Penulis mana, sih, yang nggak mau karyanya nampang di toko-toko buku? Dilabeli dengan rupiah tentunya dan terlebih dihargai para pembacanya. Bullshit kalau nggak ada yang mau. Saya sendiri juga gitu. Pengen banget kalau punya karya yang terpajang di etalase toko buku dan dibaca banyak orang. Bikin orang meresapi apa yang ada dalam buku tersebut. Mungkin suatu hari nanti. Jika Tuhan menghendaki. Semoga saja. Aamiin.

Kalau di blog ini, isinya cuma curhat aja, sih. Mungkin ada beberapa postingan yang terinspirasi dari cerita teman, film, drama, dsb. tapi sebagian besar yang saya tulis adalah kisah saya sendiri. Kalau di-scroll ke bawah, pasti nemu gaya bicara saya yang alay karena pakai kata aku/apin (penyebutan nama). Saya nggak mau menghapusnya karena… ya biar aja lah ya, jadi kenangan kalau saya pernah begitu. Sekarang, sih, lebih konsisten pakai kata “saya” karena kesannya lebih sopan. Sekarang juga sedang belajar pakai EYD yang benar karena ‘tugas negara’ di dunia nyata yang mengharuskannya.

Menulis itu capek, lho. Kadang suka gemes juga kalau udah nulis capek-capek nggal dihargai. Hhh, sok-sokan padahal jadi silent reader juga. Nggak meninggalkan jejak semacam like/vote atau komentar, padahal itu salah satu sumber semangat dalam menulis. Tapi dasarnya saya orang plin plan, pengennya dapat semangat semacam itu tapi takut kalau akunnya dikenali orang. Masih takut di-judge. Dibilang alay, lebay, menye-menye, “malah piye”. Padahal ya kalau percaya diri, it’s fine. Semua bakalan baik-baik aja. Yap! Saya mulai menanamnya dalam kepala.

Saya menulis untuk menyenangkan diri saya sendiri. Ada yang mau baca syukur, enggak juga gak apa-apa. Tapi semoga aja tulisan yang saya buat dengan susah payah nggak dijiplak orang gitu aja. Because it’s like you have give all of your time for stalking on someone’s account you love but he/she has boy/girlfriend already. LUORO, CUKS! Njir, gue ngomong apaan, nih. Ah, elah.

Eh, tapi beneran, lho. Plagiasi atau penjiplakan itu sesuatu yang sangat rawan di dunia ke-author-an. Gampang banget soalnya tinggal copy-paste, ganti nama, kelar deh. Tapi siapa yang nggak sakit hati coba kalau dia udah merelakan waktu luangnya dengan menulis susah-susah, eh, dicomot orang lain dengan nggak bertanggung jawab. Maling. Sedih, loh. Terinspirasi boleh, tapi jangan sampai melakukan plagiasi. Ada undang-undangnya lho. Inget juga kalau karma does exist!

Intinya saya menulis untuk diri saya sendiri. Mau orang bilang apa juga bodo amat. Ya, itu aja sih yang mau saya bilang. Ngalor ngidul, ngetan ngulon, nggak penting, ya? Hahaha.

Jogja, 30/04/2017     20.27 WIB

Teruntuk Ifa

Hai, Fa.

Saya menulis ini khusus untukmu. Kamu yang dengan sabarnya menemani di kala saya senang maupun suntuk. Kamu yang menemani di saat saya memulai masa menjadi dewasa. Yang selalu ada dalam setiap saya rapuh dan terluka.

Fa,

banyak sekali yang ingin saya sampaikan. Lewat tulisan ini semoga dapat menyuarakan apa yang tak bisa terucap lewat bibir saat kita bercengkrama.

Tolong dimaafkan, Fa.

Untuk setiap kata-kata yang kadang tak mudah diterima oleh telinga. Untuk setiap kalimat yang tak jarang membuat luka. Dan untuk setiap sikap yang membuat kecewa.

Tak jarang ketika kamu bercerita, saya akan menyela. Mengabaikan ceritamu dan beralih cerita yang lain, tentang gosip terbaru misalnya. Saya yang tak peka dengan keadaanmu di saat kamu terluka karena masalah di rumah atau karena murka adikmu yang tak bisa diterima logika.

Saya yang tak acuh. Padahal kamu telah lama menunggu. Sewaktu saya bilang kita akan belajar bersama. Kamu tetap menunjukkan senyum dan gigi rapimu ketika saya datang menghampiri. Dengan tanpa bersalah saya duduk di sampingmu, menyalakan laptop, dan mencomot cemilanmu. Sungguh tak tahu malu. Tapi kamu memakluminya.

Terima kasih, Fa.

Untuk semua yang telah kamu korbankan. Untuk setiap canda dan tawa yang terurai di setiap perjalanan. Untuk hari-hari ceria yang telah kita lewati bersama. Semoga hal-hal kecil yang tercipta juga membuatmu bahagia.

Tetaplah tersenyum, Fa.

Jalan hidup kita masih panjang. Meski banyak aral melintang, saya yakin jika kita mampu berjuang. Jangan banyak mengeluh. Lemparkan saja jangkarmu jauh dan yakin suatu saat nanti kita pasti berlabuh.

Ingatkah kau, di saat akhir-akhir kita menempuh bangku kuliah? Saat kita sudah terlalu jengah dan lelah. Kamu bilang, “sudahlah, sepertinya memang lebih baik menikah.”

Kita tertawa, sebab kita tahu kenyataannya. Jika kita benar-benar melakukannya, itu tak akan mengurangi masalah tetapi malah menambah.

Tetaplah kuat, Fa.

Saya yakin dan percaya, pangeranmu suatu saat nanti akan datang menjemput setelah jauh mengembara. Menawarkan sebuah bahagia. Dan itu pasti yang kamu minta pada yang Kuasa.

Jika nanti masing-masing dari kita sudah berkeluarga, pasti akan sangat menyenangkan berbagi cerita denganmu tentang anak-anak kita dan bahkan kita bisa menjodohkannya. Bukankah itu menyenangkan, Fa?