Terima Kasih yang Kedua

Untuk lelaki yang menjadi cinta pertamaku: Bapak.

Terima kasih, Pak, untuk malam-malam pertama saat menemani ibu sewaktu saya hadir di dunia. Saya tahu, itu sangat merepotkan. Mengurangi waktu istirahat padahal saya yakin waktu itu bapak juga merasa penat. Tapi bapak selalu tersenyum ketika menggendong kemudian meninabobokan saya.

Lalu ketika ibu harus menjalani prajabatan di kota, bapak mengurus saya seorang diri. Jauh dari ibu pasti membuat bapak stress. Apalagi mengetahui jika anak perempuannya ini begitu menggilai susu bayinya, yang selama sebulan bisa menghabiskan lebih dari sepuluh kaleng susu. Terima kasih atas sabarmu, Pak.

Lalu terima kasih juga, Pak. Untuk setiap tetes keringatmu yang kau keluarkan demi menghidupi kami, anak dan istrimu. Yang menurut cerita ibu, bapak sampai pernah menjadi tukang bangunan untuk membelikan saya susu. Semoga Allah mencatatnya sebagai kebaikanmu, Pak. Sebegitunya perjuanganmu.

Pak, saya menangis ketika menulis ini. Putri kecilmu ini sangat cengeng, kan? Padahal engkau selalu memberi nasihat jika saya harus menjadi kuat. Menjadi panutan untuk adik kecil agar tak dianggap remeh oleh dunia. Tapi terkadang saya merasa tak mampu, Pak. Dunia terasa kejam bagi saya. Lalu seketika saya ingin kembali ke pelukanmu, berlindung di balik bahumu, dan menangis tersedu.

Terima kasih, Pak. Untuk selalu setia menjemput anakmu ketika pulang, baik di pelabuhan kapal maupun bandar udara. Meski melelahkan, tapi engkau dengan sabar menunggu anak-anakmu untuk keluar dari besi-besi besar yang mengapung Β itu. Suatu hari nanti, saya yang akan begitu. Saya yang akan menjemput bapak di bandara ketika bapak datang berkunjung ke kota rantauan saya. Saya yang akan menjamin kehidupan layak untuk bapak sehingga bapak akan merasa nyaman. Seperti harapan-harapan yang pernah bapak curahkan.

Terima kasih, Pak. Telah memberikan pundakmu sebagai tempat bersandar terkuat sebelum saya menemukan si pangeran hati. Menjadi penahan di saat dunia terasa asing dan menyebalkan. Tempat berlindung dari ucapan orang yang menyesakkan dada. Selalu ada untuk mendengarkan jeritan hati, meski membosankan, meski diulang-ulang. Seolah-olah cerita dari putri kecilmu ini adalah sebuah kejutan. Selalu bertanya kabar padahal putrimu ini jarang menanyakan. Terima kasih, Pak. Sungguh engkau memang lelaki idaman.

Semoga suatu hari nanti saya bisa menemukan seorang pria yang tegarnya sepertimu. Yang tanggung jawabnya sepertimu. Yang selera humor tinggi dan lucu sepertimu. Yang rasa cinta keluarganya sebegitu besarnya sepertimu. Jika suatu hari nanti saya menemukannya, tetap bapak yang akan selalu menjadi rajanya. Lalu saya juga akan tetap menjadi putri kecilmu yang manja dan banyak bicara serta terampil bercerita. Semua tak akan mengubah apa-apa karena bapak akan selalu menjadi cinta pertama.

Jogja, 03/05/2017

My Heroes #2

Apin-bapak-FachriSedikit deskripsi mengenai bapak saya. Bapak saya tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang pria. Beliau memiliki rambut hitam lurus. Beliau berkumis, kumis itu menjadikan beliau percaya diri dan terlihat gagah berwibawa di mata saya. Beliau memiliki dan menurunkan gen gigi yang persis dengan saya dan adik saya. Bapak saya juga kadang berjerawat karena kulit beliau memang sensitif dan itu juga diturunkan pada saya. Bedanya jerawat saya tidak sebesar yang dimiliki oleh bapak. Di balik penampilan beliau yang terkesan garang, beliau adalah sosok yang hangat dan menyukai candaan. Buktinya, beliau sering mengejek saya dan itu sukses membuat keluarga kecil kami tertawa puas kecuali saya. Di depan anak-anaknya, bapak selalu menunjukkan sikap tegar dan menegarkan anak-anaknya tapi di balik itu semua saya tahu bapak menyimpan sedihnya yang mungkin hanya ibu, bapak, dan Allah lah yang mengetahuinya.

Fakta menarik tentang bapak saya…

Sewaktu saya kecil, saya tidak pernah potong rambut di salon karena saya memiliki tukang potong pribadi, yaitu bapak saya. Ya, bapak yang bertugas untuk merapikan rambut saya ketika saya sudah merasa tidak nyaman dengan rambut saya. Sayangnya, bapak saya hanya bisa memotong rambut dua model, potongan dora dan potongan cepak. Akibatnya, gaya rambut saya ya hanya dua itu. Sampai akhirnya sewaktu kelas 6 SD saya bosan dan memutuskan untuk memotong rambut dengan cara saya sendiri. Kebetulan waktu itu bapak memiliki gunting yang sekaligus ada sisirnya sehingga rasa penasaran membuat saya melakukan eksperimen kecil terhadap rambut sepunggung saya. Hasilnya… not too bad πŸ™‚

However, I miss my old hair. When I have hair like dora and when I don’t need to go to salon because I have a great hairstyler. Di Jogja, mau tidak mau saya harus ke salon ketika saya ingin memangkas rambut. Namun entah mengapa sekarang ini saya sedang ingin memanjangkan rambut. Hmm…

Fakta yang lain tentang bapak saya adalah sewaktu kecil sosok bapak itu sangat menakutkan bagi saya karena bapak saya sering menggunakan tangan kepada saya. Ketika saya nakal sedikit langsung dicubit, dijewer, bahkan bisa sampai ditendang. Ya wajar, mungkin karena saya terlalu nakal. Ibu juga bersikap demikian. Hal itu yang membuat saya seperti memiliki jarak dengan orang tua saya. Ketika saya berbuat kesalahan di depan bapak maka bapak akan langsung memelototi saya dan saya pasti akan langsung ketakutan lalu segera menuruti kata-kata beliau. Sampai dulu ada teman SD saya yang mengatakan bahwa dia takut melihat bapak saya. Namun semenjak saya berada di Jogja semua itu berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sewaktu saya kecil. Sekarang bapak saya serasa teman saya sendiri. Beliau banyak memberikan nasihat-nasihat yang luar biasa kepada saya. Beliau tidak pernah terlihat marah lagi kepada saya, beliau selalu menanggapi kata-kata saya dengan candaan. Bahkan sekarang bapak sering mengejek saya karena tubuh saya yang kecil dan pendek. Sering pula menggoda siapa pacar saya. Hhhh gebetan aja ngga punya, gimana pacar 😐

Bapak senantiasa mengarahkan saya walaupun hanya lewat telepon. Bahkan sekarang bapak dan ibu sering frontal dengan mengatakan merindukan dan ingin sekali bertemu anak-anaknya. Seketika ekspresi saya akan berubah ketika mendengar kata-kata itu lewat telepon. Saya akan diam dan tiba-tiba butir-butir air akan jatuh dari mata saya. Saya pasti akan menangis. Mungkin saya terkesan cengeng tapi saya akui saya juga merindukan kedua orang tua saya. Orang yang sudah bersusah payah mengupayakan apa pun yang terbaik untuk saya. Namun saya berusaha untuk menegarkan suara saya agar bapak dan ibu tidak tahu kalau saya menangis.

Sewaktu saya akan melanjutkan jenjang SMP, bertepatan dengan wisuda S1 bapak. Harusnya bapak ke Jakarta untuk melakukan wisuda tapi bapak mengurungkan niatnya karena mementingkan sekolah saya. Uang yang digunakan untuk wisuda bapak digunakan untuk rencana sekolah saya. Betapa bapak sangat memikirkan pendidikan saya sampai-sampai beliau tidak menghadiri upacara wisudanya.

Kisah menarik lain tentang bapak adalah pemikiran bapak yang sangat luar biasa tentang bagaimana beliau membiayai masa depan anak-anaknya. Setelah membuka kios, bapak memutuskan untuk membuat depo isi ulang air minum kemasan galon. Air minum galon itu akan diedarkan ke desa-desa terdekat dari kios setiap hari setelah ashar bergantian menggunakan mobil sejenis pick up lawas milik bapak. Yang membuat saya geli sekaligus kagum adalah slogan yang ada di penutup bak mobil. Di sana bapak menuliskan kata-kata “Ngalor ngidul nggowo gendul” (Ke utara dan ke selatan membawa botol). Ketika saya tanya lebih lanjut mengenai slogan itu bapak malah menambahkan, “ngetan ngulon nggowo galon” (ke timur dan ke selatan membawa galon). Bapak mengatakan, kan rumah bapak dan ibu itu lor-kidul (utara-selatan) sehingga slogan yang dipakai adalah slogan yang pertama. Slogan kedua hanya untuk pelengkap saja. Ketika saya mendengar slogan kedua bapak saya bertambah geli. Terdengar lucu namun kreatif. Bapak selalu bilang, “bapak mau keliling jualan air galon dulu, biar dapat uang, biar kamu bisa tetep kuliah. Maka kamu jangan boros-boros menggunakan uang yang dikirimi ibu atau bapak.” Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika bapak mengatakan hal itu.

Moment Lebaran. Keluarga kami memiliki tradisi sungkeman setelah usai sholat idul fitri. Alhamdulillah bapak dan ibu bisa merayakan lebaran di Jogja, bersama dengan saya, adik, dan simbah. Lengkap. Pertama bapak dan ibu sungkem kepada simbah. Kedua ibu sungkem pada bapak. Terakhir saya dan adik sungkem pada bapak dan ibu. Ketika sungkem pada bapak, saya tidak bisa menahan air mata saya. Sebelum saya terisak, bapak buru-buru mengatakan, “udah, belajar aja biar pinter.” Singkat tapi bermakna. Saya tahu bapak juga menyimpan tangisnya tapi tidak ditunjukkan, beliau pasti tidak mau terlihat lemah di depan keluarganya.

Sebelum idul adha kemarin bapak tiba-tiba menyuruh saya untuk pulang ke Kalimantan Tengah padahal perkuliahan tidak ada libur khusus. Alasan bapak sederhana, mau diajak ke rumah teman lama bapak kalau cuaca panas. Saya mengernyitkan dahi. Lalu bertanya apa maksudnya. Bapak mengatakan, kalau jalan menuju rumah teman bapak baru saja dibuat jembatan jadi bapak ingin berkunjung karena sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman lama bapak itu. Selain itu di dekat daerah teman lama bapak ada tempat wisata yang cukup menarik, saya lupa apa namanya. Saya hanya bisa mengatakan, “oooo” dan menjelaskan bahwa saya tidak memiliki libur khusus sehingga tidak bisa pulang.

Entah kenapa akhir-akhir ini bapak dan ibu saya sering sekali berkata ingin bertemu dengan saya dan adik. Sebegitu rindunya kepada kamikah? Padahal dulu sewaktu saya masih SMP-SMA orang tua jarang mengatakan secara tersurat mereka merindukan anak-anaknya. Apa mungkin karena mereka merasa saya memang sudah cukup umur? Entahlah. Bapak dan ibu juga sekarang sering mengajak saya untuk berdiskusi mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan rumah simbah. Semacam mereka memberikan kepercayaan penuh pada saya untuk mengurus sebuah rumah.

Itu hanyalah sepenggal kisah dan fakta tentang bapak. Masih banyak cerita yang lain tetapi saya sudah lelah ehehehe

Bagaimana saya tidak mengidolakan sosok bapak? Beliau adalah salah satu alasan mengapa saya kuat di Jogja, selain ibu. Beliau yang selalu menyemangati saya ketika lingkungan jogja sedang tidak bersahabat dengan saya. Beliau yang selalu mendengarkan keluh kesah saya, tentang betapa kerasnya hidup ini. Beliau dan ibu yang selalu mengingatkan saya untuk tidak lupa beribadah. Beliau yang rela menghabiskan pulsanya untuk selalu menelepon saya walaupun kadang saya menjawab telepon dengan nada yang ketus, saya tahu beliau terluka karena sikap saya. Saya telah berdosa karena itu. Saya tahu. Beliau yang mati-matian membanting tulang mencari rezeki untuk kehidupan saya dan adik tapi kadang saya hamburkan begitu saja. Saya juga berdosa akan hal itu. Begitu banyak dosa yang telah saya ciptakan terhadap bapak. Maka semampu saya, akan saya usahakan yang terbaik untuk bapak saya. membuat beliau bangga dengan prestasi saya. Untuk membayar keringat yang telah beliau keluarkan demi saya. Hanya ini yang dapat saya lakukan selain mendoakan beliau dan ibu.

Semoga bapak dan ibu senantiasa sehat, panjang umur, bahagia, dan berada dalam lindungan Allah SWT. Supaya nanti bisa menyaksikan dan mendampingi saya dalam wisuda kuliah. Aamiin~

My Heroes #1

My Family

Setiap orang pasti memiliki tokoh idola, walaupun mungkin tidak mengidolakan secara khusus tapi tetaplah setiap orang memiliki tokoh idola. Begitu pula dengan saya. Dalam hidup saya, saya banyak mengidolakan orang tetapi ada tiga orang yang wajib saya idolakan. Nabi Muhammad SAW., bapak, dan ibu saya. Di sini saya tidak akan membahas mengenai kecintaan saya pada Nabi junjungan saya karena alasannya sudah terlalu mainstream. Beliau adalah Nabi besar saya dan seluruh umat Islam, tentunya alasan mengapa saya mencintai beliau hampir sama dengan umat Islam yang lain. Kali ini saya akan menceritakan dua orang yang saya idolakan dan yang bisa membuat saya bahagia dunia akhirat. Mereka adalah orang tua saya.

Setiap anak tentu sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya, begitu pula dengan saya. Saya begitu mencintai kedua orang tua saya. Bahkan saya merasa semakin hari kecintaan saya untuk kedua orang tua saya semakin besar. Saya ingin membahagiakan mereka dengan apa yang dapat saya raih dengan usaha yang baik. Saya ingin mereka tidak kecewa dengan adanya saya.

Orang tua saya adalah sosok yang tegas. Sejak saya kecil, orang tua saya banyak menerapkan aturan-aturan yang kadang membuat saya merasa stres dan frustasi. Bahkan saya pernah berpikir “apakah kedua orang tua saya tidak menyayangi saya sehingga mereka memberikan aturan seperti ini?”. Namun itu tidaklah benar, sebab selalu ada maksud yang baik ketika orang tua menerapkan suatu aturan pada anaknya.

Sejak kecil, orang tua saya membiasakan saya dan adik saya untuk menyebut mereka dengan sebutan bapak dan ibu, bukan papi-mami, papa-mama, pipi-mimi, daddy-mommy, apa lagi papski-momski. Kata bapak, biar kelihatan Jawa-nya. Ya, saya berlatar belakang budaya Jawa yang cukup kental. Bahasa sehari-hari yang saya gunakan adalah bahasa Jawa, sehingga saya lebih sering memanggil bapak dan ibu saya dengan sebutan Pak e dan Buk e.

Saya dulu sempat minder kenapa bapak dan ibu saya tidak membiasakan saya memanggil mereka dengan sebutan papa-mama. Namun bapak saya menyela, “papah-mamah gedhang po?” (bagian dari pohon pisang) lalu tertawa. Bapak tidak menjelaskan secara detail apa alasannya tetapi semakin bertambahnya usia saya, saya semakin mengerti kenapa begitu. Menurut saya, karena kami berasal dari keluarga Jawa maka panggilan yang cocok ya memang bapak-ibu, ditambah lagi pekerjaan orang tua saya yang seorang pendidik dan pengajar sehingga mungkin orang tua saya lebih nyaman dipanggil bapak dan ibu. Sekalian melestarikan budaya Jawa. Bagi saya apapun panggilan untuk kedua orang tua itu tidak masalah, selama tidak melecehkan dan tidak mengurangi rasa hormat terhadap orang tua.

Saya hidup bersama kedua orang tua saya selama kurang lebih 12 tahun. Mulai dari saya lahir hingga saya lulus dari bangku Sekolah Dasar. Setelah lulus SD, orang tua saya “mengirim” saya ke Yogyakarta untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama alias SMP dengan dalih merawat simbah saya. Hingga sekarang ini saya masih di Yogyakarta untuk menempuh kuliah S1 saya, semoga bisa sampai S2, S3, S4, S5. aamiin~ udah kayak Sam*sung Gala*xy aja sampe S5 πŸ˜€

Masa kecil saya terasa begitu berat bagi saya karena orang tua saya banyak memberikan aturan bagi saya. Perasaan berat itu mungkin terjadi karena saya merasa terkekang dengan aturan itu dan saya berusaha untuk berontak. Ibu kerap kali bercerita kalau saat kecil dulu saya begitu nakal dan sulit diatur, mungkin itulah mengapa orang tua memberikan aturan yang ketat terhadap saya.

Kata Ibu, sewaktu saya bayi, saya selalu dibawa ibu ke sekolah tempat ibu mengabdi karena di rumah tidak ada orang. Ibu tidak mau menitipkan saya karena saya juga tidak betah dengan orang lain selain ibu dan bapak saya. Jadi daripada merepotkan orang lain, ibu saya memilih untuk membawa saya ke tempat kerja beliau. Setiap pagi bapak mengantarkan ibu dan saya terlebih dahulu, baru kemudian bapak menuju ke sekolah tempat bapak mengabdi. Jarak sekolah ibu dengan rumah kami sangatlah jauh. Apalagi sewaktu saya bayi bapak hanya menggunakan sepeda jenis onthel ke sana kemari. Pasti terasa sangat melelahkan untuk mereka berdua. Apalagi keluarga kami jauh dari keluarga besar bapak dan ibu dikarenakan keluarga besar bapak dan ibu berada di Yogyakarta sedangkan bapak dan ibu merantau ke Kalimantan hingga sekarang. Pernah suatu hari, setelah jam pulang sekolah saya menangis. Entah mengapa saya lupa cerita ibu. Waktu itu bapak tidak kunjung menjemput dan tangisan saya semakin kencang, maka ibu memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki di tengah panas yang terik. Melegakan tangisan saya. Ibu merasa sangat lelah berjalan sejauh itu. Di tengah perjalanan ada kepala sekolah ibu yang berniat untuk memberi tumpangan tetapi tangisan saya semakin keras sehingga membuat ibu untuk memutuskan meneruskan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Ketika saya ingat cerita ini saya mengutuk diri saya sendiri mengapa saya tega membiarkan ibu saya kelelahan berjalan kaki sembari menggendong saya di tengah teriknya matahari.

Ibu juga bercerita, dulu saat saya masih kecil ketika saya diajak ke acara pernikahan seseorang saya pasti menangis dan mengamuk tapi ketika saya diajak untuk melihat bayi yang baru lahir saya tertawa senang. Selesai ibu bercerita ini kepada saya, beliau bertanya kenapa saya begitu? Ingat nggak kelakuanmu yang ini? Saya hanya bisa nyengir kuda dan berkata tidak tahu. Dalam hati saya berkata mungkin karena pernikahan itu membuat hubungan anak dan orang terputus dalam artian anak itu sudah bukan menjadi tanggung jawab orang tuanya lagi dan ketika melihat bayi yang baru lahir saya senang karena saya memiliki teman baru hehehe.

Ibu juga bercerita dulu sewaktu masih bayi saya pernah dibawa ke Kapuas karena ibu harus bertugas di sana. Ibu menyebrangi suatu daerah dengan prahu kelotok di malam hari yang gelap gulita. Ibu merasa sangat was-was, takut kalau terjadi sesuatu di jalan. Benar saja, saya mendadak muntah di tengah perjalanan. Kata ibu, itu mungkin awal mulanya saya menjadi orang yang sering mabuk darat.

Ada beberapa cerita yang masih saya ingat hingga sekarang tentang bapak dan ibu saya.

Saya ingat dulu sewaktu saya masih TK, ibu saya membelikan baju seragam yang berbeda dari teman-teman saya. Ketika teman-teman saya mengenakan seragam terusan berwarna biru dongker/navy, ibu saya membelikan saya seragam terpisah antara kemeja putih dan rok dan rompi serta dasi kupu-kupu yang berwarna biru cerah. Seragam saya sangat berbeda dengan teman-teman saya dan itu sempat membuat saya minder. Namun saya tetap memakainya sampai saya dinyatakan lulus dari TK dan melanjutkan ke jenjang SD. Sewaktu TK juga ketika teman-teman saya memakai baju batik cokelat, ibu saya bukan membelikan batik malah menyuruh saya untuk memakai rok dan baju bermotif bunga warna cokelat-kuning-oranye. Ibu saya memang orang yang anti-mainstream πŸ˜€

Sewaktu TK juga saya pernah mengalami kejadian yang memalukan sekali. Untuk pertama kalinya ada permen karet yang menempel di rambut -yang cukup panjang- kesayangan saya. Tentu saja permen karet yang sudah menempel itu tidak mudah lepas dari rambut saya, jalan satu-satunya adalah dengan memotong rambut saya. Saya merelakan ayah saya memotong bagian yang ditempeli permen karet tersebut. Hasilnya… mengerikan. Saya tidak berani ke sekolah dengan rambut baru saya. Akhirnya ibu saya menyuruh saya menggunakan jilbab untuk menutupinya sampai saya merasa percaya diri dengan kondisi rambut saya. Saya menuruti perintah beliau. Saya dengan PD-nya mengenakan seragam biru TK yang pendek kesayangan saya ditambah dengan jilbab. Ah saya tidak mau mengingat bagaimana bentuknya sewaktu saya menenakan pakaian seperti itu.

Zaman saya TK, bapak dan ibu hanya memiliki satu sepeda motor dan itu digunakan oleh bapak karena ibu belum bisa mengendarai motor. Imbas dari hal itu adalah setiap saya pulang sekolah saya tidak pernah dijemput oleh bapak saya karena saya pulang sekolah pukul 09.00 WIB sedangkan bapak saya pulang pukul 12.00 an. Jarak antara sekolah saya dengan tempat kerja bapak sangatlah jauh sehingga tidak memungkinkan bapak untuk menjemput saya. Akibatnya setiap saya pulang sekolah saya harus menebeng teman saya yang dijemput ibunya dengan menggunakan sepeda, kebetulan ibunya juga sudah mengenal baik dengan ibu saya. Setiap saya menebeng teman saya pasti saya nanti diturunkan di depan gerbang sekolah tempat ibu saya bekerja karena sekolah ibu dan sekolah saya lebih dekat jika dibandingkan dengan sekolah bapak. Kalau tidak, ibu akan meminta tolong kepada seorang muridnya untuk menjemput saya.

Itu sepenggal kisah saya sewaktu berada di zaman TK. Tentu masih banyak cerita yang lain tapi tidak dapat saya sampaikan karena saya sudah lupa hehehe

Memasuki zaman saya SD, bapak dan ibu memutuskan untuk membuka sebuah kios yang tidak terlalu jauh dari sekolah ibu dan searah dengan jalan menuju sekolah bapak. Setiap pulang sekolah, kami sekeluarga akan berada di kios kecil tersebut. Awalnya ibu hanya menjual alat jahit dan alat tulis kantor tapi sekarang alhamdulillah sudah lebih bermacam-macam barangnya. Setelah sore kami kembali ke rumah kami hingga pagi tiba. Begitu terus hingga akhirnya bapak dan ibu memutuskan untuk tinggal di kios kecil kami. Bapak menamakan kios itu dengan nama “Kios Jogja”, alasan bapak karena kita kan orang jogja. Hmm masuk akal πŸ˜€

Usaha kios yang dirintis ibu dan bapak semakin berkembang hingga akhirnya bisa digunakan untuk membeli sebuah sepeda motor untuk ibu agar ibu bisa pergi ke mana saja secara mandiri karena pekerjaan bapak juga sudah lumayan padat. Itu juga bisa digunakan untuk menjemput saya dan adik. Alhamdulillah, nikmat Allah sangatlah nyata.

Kelas 3 SD, saya dibelikan sebuah sepeda mini berwarna merah oleh bapak. Bapak merasa saya sudah siap untuk mengendarai sepeda sendiri setelah sebelumnya saya berlatih naik sepeda dengan sepeda mungil bekas anak teman bapak sampai berkali-kali jatuh ke selokan -,- Sampai sekarang sepertinya sepeda kecil mungil itu masih ada di gudang. Saya berkeliling rumah dengan sepeda baru saya itu, saya sudah merasa jago mengendarai sepeda itu tetapi saya tetap saja terjatuh dan akibatnya keranjang yang ada di depan stang sepeda saya menjadi peyok. Mulai itu saya ke sekolah naik sepeda. Tak lama kemudian adik saya juga dibelikan sepeda sehingga saya dan adik setiap pagi berangkat bersama mengendarai sepeda, menelusuri jalanan yang berbatu dan berdebu yang sangat berbeda dengan kondisi jalanan di Jogja yang mulus tanpa celah. Hal itu saya lakukan hingga saya lulus dari SD. Sampai sekarang sepeda mini berwarna merah itu masih terpajang di gudang, tertutup debu.

Baru setelah kelas 6 SD, saya diperbolehkan naik motor oleh bapak. Hal yang menyenangkan untuk anak seusia saya. Di akhir masa SD juga bapak memperbolehkan saya menggunakan HP beliau untuk berkomunikasi dengan teman saya yang saat itu masih menggunakan bahasa 4L4y. Saya tidak mau mengingat lagi seberapa alay-nya saya kala itu. Cukup.

Ketika saya lulus dari SD bapak membelikan HP untuk saya. Memang bukan HP canggih keluaran terbaru, hanya HP jadul yang hanya bisa untuk telepon dan SMS tetapi HP itu lebih dari cukup untuk saya agar bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar saya. Tujuan utama pembelian HP itu tidak lain tidak bukan adalah untuk mengobati rindu saya kepada orang tua karena kami akan terpisah jarak -antarpulau-. Saya harus bersekolah di Yogyakarta, meneruskan apa yang harus saya persembahkan untuk kedua orang tua saya sementara bapak dan ibu tetap tinggal di Kalimantan Tengah.

Di Jogja, awalnya saya tinggal bersama budhe dari ibu saya tapi semenjak simbah saya sakit-sakitan saya tinggal di rumah simbah, hingga sekarang ini. Saya bersekolah di tempat ibu dan bapak dulu menimba ilmu, benar-benar meneruskan jejak beliau. Selain itu, karena sekolah itu yang terdekat dari rumah. Ada cerita yang masih saya ingat ketika saya pertama kali masuk SMP. Ibu saya harus berjuang mati-matian agar saya bisa diterima di SMP itu, karena sewaktu mendaftar saya belum memiliki ijazah dan hanya membawa SKL tetapi pihak sekolah tidak mau menerima sehingga ibu harus menghadap kepala dinas kabupaten. Setelah itu baru saya bisa masuk ke SMP itu. Ketika saya pertama kali masuk SMP, ibu sudah mengingatkan saya kendaraan umum yang harus saya ambil untuk pulang. Saya paham. Dan ketika saya pulang saya turun di depan SMK yang ada di dusun saya padahal seharusnya saya turun di pasar. Tidak apa-apa, toh jalan juga tidak jauh, begitu pikir saya. Begitu saya turun dari angkutan kota, terlihat ibu saya dari kejauhan. Saya menghampiri beliau dan bertanya, ibu mau kemana. Saya menggoda beliau, ibu takut apin kesasar yaa, nggak bakal deh apin kesasar tadi udah dibilangin temen juga kok. Ibu hanya tertawa dan terlihat sekali raut lega dari wajah ibu. Betapa ibu mengkawatirkan saya, saya menjadi merasa semakin merindukan sosok ibu di sebelah saya.

Awal-awal ketika saya SMP, saya sering menangis karena saya belum terbiasa hidup jauh dari kedua orang tua saya dan hidup bersama orang lain. Namun sekarang sudah terbiasa walaupun kadang masih suka menangis ketika bapak atau ibu mengatakan bahwa mereka merindukan anak-anaknya. Saya sering minta di telepon bapak atau ibu, kami mengobrol hingga berjam-jam untuk menghilangkan kerinduan saya. Saya merasa iri dengan teman-teman saya yang hidup bersama kedua orang tua mereka sementara saya harus LDR-an dengan orang tua saya. Namun selalu ada hikmah dibalik suatu peristiwa. Saya dituntut untuk menjadi anak yang mandiri yang bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Namun saya rasa sampai sekarang ini saya belum bisa bertanggung jawab atas diri saya sendiri 😦

Sampai puncaknya ketika saya kelas VIII saya menderita kelelahan akut dan menyebabkan semua orang di rumah panik termasuk kedua orang tua saya. Hal yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Saya tidak masuk sekolah selama seminggu, untung saja waktu itu kegiatan pembelajaran sudah berakhir, tinggal menunggu penerimaan raport. Saya membuat orang tua panik dengan menyuruh mereka pulang ke Jogja padahal waktu itu belum libur semester yang menyebabkan orang tua saya menjadi galau untuk pulang ke jogja. Setelah saya baikan, saya mengatakan tidak jadi, tadi saya hanya panik saja, bapak dan ibu fokus untuk bekerja saja. Saya tidak mau membuat bapak dan ibu susah karena saya. Sudah cukup kesusahan yang saya berikan sewaktu saya kecil dulu, saya tidak mau menambah beban kedua orang tua saya. Sebenarnya.