Karena Love Sedetik, Bapernya Seharian

Semalam adalah malam Minggu dan saya menikmatinya bersama teman-teman masa SMA di sebuah restoran cepat saji. Kami sibuk dengan gawai masing-masing karena kejaran tugas yang belum selesai.

Saya melihat layar ponsel, ada notifikasi. Beberapa chat dari teman, operator, perintah pembaharuan aplikasi, dan… kamu.

Jantung saya terpacu, berdebar kencang sekali, hingga saya khawatir jika teman-teman saya bisa mendengarnya. Sebab mereka tak mengetahui tentang kamu. Saya takut mereka bertanya lebih jauh. Tentang kamu. Tentang rasaku.

Notifikasinya sederhana. Kamu hanya me-like komentar yang saya berikan di unggahanmu. Komentar yang pertama kali saya berikan untukmu. Tapi saya bahagianya setengah mati. Teman-teman saya sampai heran melihat saya yang begitu antusias.

Tahukah kamu, euforia itu bertahan hingga hari ini? Bahkan saat menulis ini, saya masih senyum-senyum sendiri. Sebegitunya pengaruh kamu buat saya.

Jogja, 09/04/2017

Advertisements

Catatan Hari Ini

Dalam senyap saya berharap kamu senantiasa sehat dan mendapat sesuatu yang baik serta jauh dari terik.

Maaf, saya merindukanmu lagi malam ini. Ingin menyapamu tapi tak mampu. Jarak ribuan kilometer lagi-lagi menjadi kambing hitamnya, juga koneksi dari provider ternama yang ngadat, menghalangi niat hati untuk mencari tahu tentang kabarmu. Sungguh, saya rindu.

Sedang apa kamu di sana? Sudah tersenyumkah di hari ini? Sudah berdoakah hari ini? Banyak pertanyaan dalam kepala yang ingin terucapkan, tapi sia-sia. Semoga kamu selalu bahagia dan semoga kamu selalu dalam keadaan dicinta.

Terakhir saya lihat, kamu sudah mengenakan seragam profesimu dan sedang menjalani kewajiban yang sama seperti saya, mengabdi pada masyarakat di suatu tempat yang jauh dari peradaban. Mengorbankan waktu dan tenaga yang mungkin tidak seberapa.

Purworejo, 13/07/2017

Cinta Monyetku, apa kabarmu?

Meski kita sudah lama berlalu, tapi saya masih ingin bertanya tentang ini padamu. Bukan karena merindu, saya hanya ingin tahu.

Iya, saya masih mengingatmu. Saya harap kamu pun begitu.

Tak terasa sudah enam tahun lebih kita tak bersua. Kabar beritamu pun tak pernah sampai di telinga.

Halo, kamu sedang apa?

Masih sibukkah dengan aktivitas memetik gitar kesayanganmu? Ataukah sibuk membuat lagu baru? Semoga apapun yang kamu lakukan Tuhan selalu bersamamu.

Kamu pernah mengisi hari-hari saya. Menyebabkan rona merah di wajah ketika bertegur sapa. Membuat rindu ketika akhir pekan membatasi temu.

Melihatmu dari jauh itu pun sudah cukup karena saya sadar betul rasa ini tak bersambut. Terlebih ketika teman sebangku menyatakan ia juga menyukaimu. Saya kalut.

Jika saya maju, mungkin saja saya dan kamu bisa menjadi kita. Rasa suka saya akan jadi nyata dan jadi cinta monyet atau mungkin gorila. Namun saya masih terlalu naif waktu itu. Teman sebangku saya anggap nomor satu.

Setahun berlalu, sudah waktunya kamu untuk pergi. Menyisakan kenangan pertunjukkanmu bermain gitar. Saya terpana waktu itu. Setelah itu saya dapat kontakmu dan beberapa kali kita bertukar pesan. Meski kamu tak tahu jika itu adalah saya, tak mengapa. Balasan pesanmu selalu membuat saya bahagia.

Beberapa hari yang lalu, saya dengar kabar jika kamu akan menikah. Wah! Selamat! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Diberikan putra-putri yang lucu, imut, menggemaskan. Saya di sini ikut menyumbang senyum bahagia. Dan semoga-semoga yang baik selalu tertuju pada kalian.

Saya cuma mau bilang, terima kasih. Sudah pernah mewarnai hari-hari saya. Mengusik rasa penasaran dalam diri saya ketika beranjak remaja. Semoga kamu selalu berbahagia.

Jogja, 3/5/2017