Cinta Monyetku, apa kabarmu?

Meski kita sudah lama berlalu, tapi saya masih ingin bertanya tentang ini padamu. Bukan karena merindu, saya hanya ingin tahu.

Iya, saya masih mengingatmu. Saya harap kamu pun begitu.

Tak terasa sudah enam tahun lebih kita tak bersua. Kabar beritamu pun tak pernah sampai di telinga.

Halo, kamu sedang apa?

Masih sibukkah dengan aktivitas memetik gitar kesayanganmu? Ataukah sibuk membuat lagu baru? Semoga apapun yang kamu lakukan Tuhan selalu bersamamu.

Kamu pernah mengisi hari-hari saya. Menyebabkan rona merah di wajah ketika bertegur sapa. Membuat rindu ketika akhir pekan membatasi temu.

Melihatmu dari jauh itu pun sudah cukup karena saya sadar betul rasa ini tak bersambut. Terlebih ketika teman sebangku menyatakan ia juga menyukaimu. Saya kalut.

Jika saya maju, mungkin saja saya dan kamu bisa menjadi kita. Rasa suka saya akan jadi nyata dan jadi cinta monyet atau mungkin gorila. Namun saya masih terlalu naif waktu itu. Teman sebangku saya anggap nomor satu.

Setahun berlalu, sudah waktunya kamu untuk pergi. Menyisakan kenangan pertunjukkanmu bermain gitar. Saya terpana waktu itu. Setelah itu saya dapat kontakmu dan beberapa kali kita bertukar pesan. Meski kamu tak tahu jika itu adalah saya, tak mengapa. Balasan pesanmu selalu membuat saya bahagia.

Beberapa hari yang lalu, saya dengar kabar jika kamu akan menikah. Wah! Selamat! Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Diberikan putra-putri yang lucu, imut, menggemaskan. Saya di sini ikut menyumbang senyum bahagia. Dan semoga-semoga yang baik selalu tertuju pada kalian.

Saya cuma mau bilang, terima kasih. Sudah pernah mewarnai hari-hari saya. Mengusik rasa penasaran dalam diri saya ketika beranjak remaja. Semoga kamu selalu berbahagia.

Jogja, 3/5/2017