Terima Kasih yang Kedua

Untuk lelaki yang menjadi cinta pertamaku: Bapak.

Terima kasih, Pak, untuk malam-malam pertama saat menemani ibu sewaktu saya hadir di dunia. Saya tahu, itu sangat merepotkan. Mengurangi waktu istirahat padahal saya yakin waktu itu bapak juga merasa penat. Tapi bapak selalu tersenyum ketika menggendong kemudian meninabobokan saya.

Lalu ketika ibu harus menjalani prajabatan di kota, bapak mengurus saya seorang diri. Jauh dari ibu pasti membuat bapak stress. Apalagi mengetahui jika anak perempuannya ini begitu menggilai susu bayinya, yang selama sebulan bisa menghabiskan lebih dari sepuluh kaleng susu. Terima kasih atas sabarmu, Pak.

Lalu terima kasih juga, Pak. Untuk setiap tetes keringatmu yang kau keluarkan demi menghidupi kami, anak dan istrimu. Yang menurut cerita ibu, bapak sampai pernah menjadi tukang bangunan untuk membelikan saya susu. Semoga Allah mencatatnya sebagai kebaikanmu, Pak. Sebegitunya perjuanganmu.

Pak, saya menangis ketika menulis ini. Putri kecilmu ini sangat cengeng, kan? Padahal engkau selalu memberi nasihat jika saya harus menjadi kuat. Menjadi panutan untuk adik kecil agar tak dianggap remeh oleh dunia. Tapi terkadang saya merasa tak mampu, Pak. Dunia terasa kejam bagi saya. Lalu seketika saya ingin kembali ke pelukanmu, berlindung di balik bahumu, dan menangis tersedu.

Terima kasih, Pak. Untuk selalu setia menjemput anakmu ketika pulang, baik di pelabuhan kapal maupun bandar udara. Meski melelahkan, tapi engkau dengan sabar menunggu anak-anakmu untuk keluar dari besi-besi besar yang mengapung  itu. Suatu hari nanti, saya yang akan begitu. Saya yang akan menjemput bapak di bandara ketika bapak datang berkunjung ke kota rantauan saya. Saya yang akan menjamin kehidupan layak untuk bapak sehingga bapak akan merasa nyaman. Seperti harapan-harapan yang pernah bapak curahkan.

Terima kasih, Pak. Telah memberikan pundakmu sebagai tempat bersandar terkuat sebelum saya menemukan si pangeran hati. Menjadi penahan di saat dunia terasa asing dan menyebalkan. Tempat berlindung dari ucapan orang yang menyesakkan dada. Selalu ada untuk mendengarkan jeritan hati, meski membosankan, meski diulang-ulang. Seolah-olah cerita dari putri kecilmu ini adalah sebuah kejutan. Selalu bertanya kabar padahal putrimu ini jarang menanyakan. Terima kasih, Pak. Sungguh engkau memang lelaki idaman.

Semoga suatu hari nanti saya bisa menemukan seorang pria yang tegarnya sepertimu. Yang tanggung jawabnya sepertimu. Yang selera humor tinggi dan lucu sepertimu. Yang rasa cinta keluarganya sebegitu besarnya sepertimu. Jika suatu hari nanti saya menemukannya, tetap bapak yang akan selalu menjadi rajanya. Lalu saya juga akan tetap menjadi putri kecilmu yang manja dan banyak bicara serta terampil bercerita. Semua tak akan mengubah apa-apa karena bapak akan selalu menjadi cinta pertama.

Jogja, 03/05/2017